Berita Mamasa
Cerita Penjual Sapu Lidi Keliling di Mamasa, Jalan Kaki dan Hidup Sendirian
Ia memasarkan sapu lidinya dengan berjalan kaki dari desanya menuju Kota Mamasa.
Penulis: Hamsah Sabir | Editor: Munawwarah Ahmad
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Pampa-Lebo-63-penjual-sapu-lidi-kel.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMASA - Mengenal Pampa Lebo (63), warga Dusun Loko, Desa Mambulilling, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, pengrajin sapu lidi.
Ia memasarkan sapu lidinya dengan berjalan kaki dari desanya menuju Kota Mamasa.
Pampa Lebo hanya sekali sebulan berjualan sapu lidi ke Kota Mamasa.
Ia berjalan kaki dari kampungnya menuju kota Mamasa memikul 10 ikat sapu lidi.
Sapu lidi dijual ria paruh baya berasal dari pohon aren sehingga lebih awet tahan lama,
"10 ribu satu Pak. Usaha sendiri," ungkap Pampa Lebo, Saat ditemui Jurnalis Tribun-Sulbar.comdi Jln Demmajannang, Kelurahan Mamasa, Sulbar, Senin (4/9/2023).
Pampa Lebo hanya mampu buat satu ikat sapu lidi dalam sehari atau sepuluh dalam sebulan.
Namun kata dia, kadang tidak laku semua.
"Biasa laku enam biasa juga tujuh Pak," sebtnya.
Pampa Lebo sehari-harinya sebagai buruh tani dan jualan sapu lidi adalah sampingan.
"Kalau tidak ada lagi dikerja, ya jualan begini kak lagi Pak," katanya.
Ia mengaku tingga sendiri dan istrinya meninggal sejak enam tahun lalu.
"Saya sendiri, karena istriku sudah meninggal Pak," sambungnya.
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com Hamsah Sabir