OPINI

Kepulan Asap Rokok Kian Merajalela, Selamatkan Pemuda Selamatkan Bangsa

Merokok menjadi perilaku yang tidak baik karena merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian.

Editor: Ilham Mulyawan
ist
Septika Dwi Haryati Statistisi pada BPS Provinsi Sulawesi Barat 

Septika Dwi Haryati
Statistisi pada BPS Provinsi Sulawesi Barat

TRIBUN-SULBAR.COM - Kesehatan merupakan salah satu modal manusia yang dibutuhkan untuk pembangunan, dengan tubuh yang sehat maka akan meningkatkan produktivitas manusia.

Pemuda sebagai penerus pembangunan bangsa sudah sewajarnya untuk menjaga kesehatan dan menghindarkan diri dari hal yang merusak kesehatan, termasuk ancaman rokok.

Sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009, pemuda adalah mereka yang berusia 16 sampai 30 tahun.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2022 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa sekitar satu dari empat pemuda di Indonesia merupakan perokok, dan Sulawesi Barat merupakan provinsi dengan perokok pemuda terbanyak di Indonesia.

Tercatat, rata-rata konsumsi jumlah rokok yang dihisap mencapai 16,93 batang per hari. Pemuda merupakan harapan bangsa, terlebih saat ini jumlah pemuda di Sulawesi Barat mencapai seperempat dari total penduduknya.

Menghindarkan pemuda dari ancaman rokok menjadi suatu hal yang krusial dilakukan.

Merokok menjadi perilaku yang tidak baik karena merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian.

Terdapat kurang lebih 4.000 zat kimia berbahaya di dalam rokok. Zat tersebut di antaranya nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik, yang dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker, jantung, impotensi, emfisema, dan gangguan kehamilan.

Risiko dari merokok pun tidak hanya dirasakan oleh perokok aktif saja, namun juga oleh perokok pasif yang ikut menghirup asap rokok dari perokok aktif.

Data BPS menunjukkan bahwa perokok pemuda didominasi oleh laki-laki dan tinggal di daerah perdesaan.

Hal yang cukup mengkhawatirkan adalah pemuda usia 16-18 tahun pun sudah cukup banyak yang merokok dengan persentase 8,92 persen.

Padahal, pemuda pada usia tersebut mungkin masih bersekolah dan belum mempunyai penghasilan. Kemudian, perokok pemuda jika dilihat berdasarkan data BPS, kebanyakan adalah mereka yang tidak tamat sekolah dasar dan berada pada ekonomi menengah dan rendah.

Penelitian empiris menunjukkan bahwa prevalensi pemuda yang merokok berkaitan erat dengan tingkat perekonomian rumah tangga, di mana jika ekonominya semakin baik, prevalensi perokok pemuda semakin rendah.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved