OPINI

Kroasia vs Brasil - Cara Mendefinisikan Bangsa Melalui Bola

Tapi, jangan pernah meremehkan Kroasia. Kroasia memang negara kecil, tapi kami berani, menantang, dan setia.”

Editor: Ilham Mulyawan
Tribun Timur.com
Willy Kumurur 

oleh: Willy Kumurur
penikmat bola

TRIBUN-SULBAR.COM - Mendiang Nelson Mandela pernah berkata, “Olahraga memiliki kekuatan untuk mengubah dunia.” Lanjutnya, “Olahraga memiliki kekuatan untuk menginspirasi, memiliki kekuatan untuk menyatukan orang dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Olahraga berbicara kepada remaja dalam bahasa yang mereka pahami, dan olahraga dapat menciptakan harapan yang sebelumnya hanya ada keputusasaan.”

Selama Perang Dunia II, setelah invasi Nazi ke Yugoslavia, Josip Broz Tito memimpin gerakan gerilya Yugoslavia, Partisan; dan pada akhir perang, Partisan—dengan dukungan invasi Uni Soviet—mengambil alih kekuasaan Nazi atas Yugoslavia.

Tito adalah salah seorang rekan Presiden Soekarno pada masanya. Di era perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet, bersama Gamal Abdel Nasser, Jawaharlal Nehru, Kwame Nkrumah, mereka mendirikan Gerakan Non Blok.

Di bawah kepemimpinan Tito, Yugoslavia yang multi etnis dapat direkatkan. Tatkala Tito wafat pada 4 Mei 1980, perbedaan antar etnis mulai muncul ke permukaan, yang dipicu oleh krisis ekonomi di akhir tahun 1980-an.

Perang saudara pun tak terelakkan. Di bulan April 1992, Yugoslavia, negara di Balkan itu, hancur berkeping-keping menjadi 7 negara.

Salah satu dari 7 negara itu adalah Kroasia yang memproklamasikan kemerdekaannya pada Juni 1991, negeri berbentuk bulan sabit, terletak di persimpangan Eropa Tengah dan Eropa Tenggara.

Franjo Tudjman, pemimpin nasionalis yang memimpin gerakan kemerdekaan, menggunakan radikalisme organisasi penggemar sepak bola untuk mendesakkan pesannya dan sepak bola itu sendiri untuk memperoleh legitimasi bagi Kroasia yang semakin merdeka. Tudjman mengatakan "setelah perang, olahraga adalah hal pertama yang membedakan bangsa".

Ia terus mengutamakan sepak bola. Tudjman memusatkan tata kelola sepak bola dan terkadang bahkan ikut campur dalam keputusan kepelatihan; karena baginya, sepak bola adalah senjata dan alat untuk membangun identitas nasional guna konsumsi domestik dan internasuional.

Ia meninggal pada tahun 1999, namun proyek pembangunan negaranya pada akhirnya cukup berhasil untuk memasukkan Kroasia ke dalam Uni Eropa (disetujui pada tahun 2013).

Adalah sebuah kenyataan, korupsi terjadi di organisasi sepakbola Kroasia dan secara tidak langsung, korupsi di sepak bola Kroasia mungkin telah berkontribusi pada kekuatan tim nasional saat ini. Para pemain lebih memilih bermain di klub-klub elit Eropa, dan mereka akhirnya mendapatkan pengalaman yang bervariasi di liga sepak bola top Eropa.

Tatkala pelatih Kroasia, Zlatko Dalić, memanggil mereka pulang untuk memperkuat tim nasional, mereka membawa pengalaman yang mereka dapatkan di klub-klub top Eropa.

Saat ini, mereka adalah profesional yang percaya diri tanpa rasa rendah diri.

Melalui lamannya, FIFA+ menyiarkan sebuah film dokumenter baru mengisahkan pecahnya Yugoslavia dan munculnya Kroasia merdeka melalui prisma generasi pesepakbola berbakat. Film Croatia: Defining a Nation, disutradarai oleh Louis Myles, yang terkenal sampai sekarang karena film dokumenternya yang luar biasa Kaiser: Pesepakbola Terhebat yang Tidak Pernah Bermain Sepak Bola, film ini menunjukkan bagaimana kekuatan sepak bola membantu mempersatukan suatu bangsa selama perjuangan Kroasia untuk memerdekakan diri dari Yugoslavia selama tahun 1990-an, yang mencapai puncaknya di Piala Dunia 1998 - di mana Kroasia menempati posisi ketiga dan di Piala Dunia 2018, yang finis sebagai runner-up setelah Prancis.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved