OPINI

Produk Lokal untuk Perangi Stunting, Kenapa Tidak?

Program ini untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang seluruh keluarga yang memiliki risiko stunting

Editor: Ilham Mulyawan
Putri Anggarini Statistisi Pertama BPS Kabupaten Majene
Putri Anggarini Statistisi Pertama BPS Kabupaten Majene 

 

Oleh : Putri Anggarini
Statistisi Pertama BPS Kabupaten Majene

TRIBUN-SULBAR.COM, MAJENE - Sunting permasalahan yang masih meresahkan dunia kesehatan Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Majene. Mungkin dari kita masih bertanya-tanya apa itu stunting, apa penyebabnya, dan apa efek jangka panjangnya?

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronik, infeksi berulang, dan tidak mendapat cukup stimulasi psikososial. Fondasi awal mula risiko stunting dimulai dari kehamilan dengan calon ibu kekurangan energi kronik dan anemia. Berlanjut ketika bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR), kemudian bayi sering sakit seperti diare dan demam akibat kehilangan momentum pemberian ASI eksklusif hingga 2 tahun atau lebih. Begitu pula saat pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang tidak adekuat.

Indikator stunting adalah tinggi badan anak-anak kurang dari -2SD (standar deviasi) dan kecerdasan anak stunting di bawah rata-rata anak seusianya. Menurut seorang pakar gizi DR. dr. Tan Shot Yen,M.hum, jika kondisi stunting sudah terjadi, maka 80 persen otak anak yang sudah terbentuk di usia 2 tahun sama sekali tidak optimal.

Selain itu, dokter Tan juga memaparkan risiko stunting ke depan adalah obesitas, hipertensi, diabetes, gangguan penyakit jantung, dan pembuluh darah. Singkatnya, efek jangka panjang stunting dapat berdampak pada kualitas sumber daya manusia, baik secara fisik maupun intelektual.

Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 melaporkan angka prevalensi stunting Provinsi Sulawesi Barat sebagai provinsi tertinggi kedua seluruh Indonesia. Sementara itu, Kabupaten Majene menempati posisi pertama se-Sulbar sebanyak 35,7 persen. Artinya, 1 dari 3 balita di Majene mengalami stunting. Sedangkan menurut WHO, suatu daerah dikatakan baik apabila angka prevalensi stunting kurang dari 20 persen.

Kekurangan gizi pada saat MPASI mestinya sudah menjadi perhatian khusus. Sebab, protein lah yang membuat anak tumbuh tinggi. Masyarakat Mejene lebih banyak mengonsumsi sumber protein berupa ikan dan hasil laut lainnya, dibandingkan telur, susu maupun daging.

Hal ini dikarenakan secara geografis wilayah Majene teletak di sepanjang pesisir laut. Sehingga, ikan lebih terjangkau, baik dari segi harga maupun cara perolehannya.

Ditinjau dari sisi ekonomi makro, PDRB Kabupaten Majene mendapat sumbangan terbesar dari sektor perikanan sebesar 37,74 persen.

Faktanya, produksi ikan tangkap laut Kabupaten Majene di tahun 2021 mencapai 8887,5 ton. Dari sisi konsumsi, dilansir dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2021 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Majene, masyarakat Majene makan ikan dan hasil laut lainnya sebanyak 15,36 gram perkapita sehari.

Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi telur, susu, dan daging yang hanya di bawah 2 gram perkapita sehari.

Seperti yang kita ketahui, ikan memiliki nilai gizi yang tinggi protein. Sebagai contoh ikan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Majene, yakni ikan layang mengandung protein sebanyak 55 gram per ekornya.

Ibu hamil dan menyusui membutuhkan 75 gram protein dalam satu hari. Asupan protein bisa didapat dengan mengonsumsi ikan layang 1-2 ekor per hari. Sedangkan, bayi yang baru mulai makan MPASI, membutuhkan 12 gram protein dalam satu hari. Dengan kata lain, seperempat ekor ikan layang sudah dapat memenuhi gizi harian anak bayi. Tentu hitungan ini akan berbeda jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved