Merantau Sejak Usia 17 Tahun, Cerita Dion Penjualan Batagor Pernah Rasakan Susahnya Beli Baju Baru

Pemuda 26 itu berjualan dari pagi 09.00 WITA hingga petang, hingga daganganya habis terjual.

Penulis: Zuhaji | Editor: Nurhadi Hasbi
Tribun-Sulbar.com/Zuhaji
Dion, seorang pedagang batagor di Simpang Tiga, Jl Pengayoman dan Jl Bau Maseppe, Kelurahan Rimuku, Kecamatan Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar). 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Dion seorang pedagang batagor di simpang tiga, Jl Pengayoman dan Jl Bau Maseppe, Kelurahan Rimuku, Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar).

Batagor merupakan nama makanan dari singkatan bakso tahu goreng.

Makanan khas Sunda adaptasi dari hidangan Tionghoa-Indonesia.

Baca juga: Cerita Rijaluddin Tukang Batu Tapandullu Jadi Tukang Kayu Saat Sepe Pekerjaan

Baca juga: Cerita Idris Penjual Cakar di Polman, Keliling dari Pasar ke Pasar Jual Sepatu

Pemuda 26 itu berjualan dari pagi 09.00 WITA hingga petang, hingga daganganya habis terjual.

"Paling sisa beberapa saja," kata Dion kepada Tribun-Sulbar.com di lapak miliknya, Kamis (29/9/2022).

Dion mulai berdagang batagor sejak usia 17 tahun.

Berpinda dari tempat satu ke tempat yang lain.

"Saya dulu di Sumatera, beberapa tahun kemudian pindah ke Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel)," jelas Dion.

Dia beralasan pergi merantau karena sejak kecil tidak mendapatkan kasih saya orangtua.

Dion kecil dulunya petani di kampung bersama saudara sepupu.

Bahkan untuk sekedar membeli pakaian hari raya, dia harus bekerja keras sendiri.

"Saya sama nenek, dari kecil sudah ditinggal orangtua," ucapnya.

Raut sedih terpancar ketika menceritakan sedikit tentang masa lalunya.

Namun, dia tidak pernah merasa kecewa terhadap kedua orangtuanya yang telah berpisah.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved