OPINI

Sudahkan Sulbar Bebas Buta Aksara?

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur perkembangan kondisi terkait aksara ini adalah Angka Melek Huruf (AMH).

Editor: Ilham Mulyawan
ist
Ilustrasai belajar 

Selain trennya cenderung menurun, peringkat AMH Sulbar juga berada di 5 terbawah. Mengapa hal ini perlu mendapatkan perhatian? Sebab, AMH ini merupakan salah satu indikator penting penyusun angka Indikator Pembangunan Manusia (IPM).

IPM adalah sebuah indikator yang menjelasakan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

Dengan kata lain, IPM adalah indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia, dalam hal ini adalah masyarakat atau penduduk. Selain sebagai ukuran kinerja pemerintah, IPM ini juga digunakan sebagai salah satu alokator penentu Dana Alokasi Umum (DAU).

IPM Sulbar pada tahun 2021 sebesar 66,36. Angka ini menempati posisi ke-4 terbawah secara nasional, di atas Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, dan Papua.

Mengingat pentingnya indikator ini, maka pemerintah harus berusaha meningkatkan indikator-indikator penyusun komponen IPM ini.

Kembali ke permasalahan aksara, bahwa ternyata terkait aksara ini merupakan salah satu komponen pendukung sebuah indikator penting kinerja pemerintah melalui pengukuran kualitas hidup manusia atau masyarakatnya.

Hal yang paling sederhana dilakukan adalah memberikan perhatian lebih atau memprioritaskan pendidikan di Sulbar.

Untuk langkah riilnya bisa dilakukan dengan menekan seminim mungkin angka putus sekolah. Sebab dengan tingginya angka putus sekolah, tentu akan berbanding terbalik dengan AMH, dan selanjutnya lagi akan menarik turun angka IPM, atau tidak memberikan andil untuk meningkatkan angka tersebut.

Dari publikasi Sulawesi Barat dalam Angka 2022, menunjukkan bahwa rasio guru murid tingkat SD dan sederajat adalah 10,56.
Artinya pada setiap 10 murid, maka ada 1 orang guru. Dari data tersebut, sebenarnya kondisi sudah cukup ideal.

Namun hal ini tidak dapat dipukul rata di seluruh wilayah Provinsi Sulbar.

Kondisi di wilayah perkotaan dan pedesaan tentu saja berbeda, di wilayah perkotaan cenderung lebih banyak guru dibandingkan dengan wilayah pedesaan apalagi wilayah terpencil. Selain itu, terkait dengan fasilitas atau sarana prasarana juga perlu diteliti kembali.

Apakah ruang-ruang kelas sudah cukup layak, apakah fasilitas belajar mengajar seperti meja, kursi, papan tulis dan lain2 sudah cukup tersedia dan masih layak.

Dari sisi SDM (Sumber Daya Manusia), dalam hal ini kualitas guru juga harus selalu di-upgrade agar target berupa output murid yang berkualitas bisa dicapai. Inilah beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan formal.

Selain melalui pendidikan formal, dapat juga digencarkan program-program terkait melek literasi, seperti rumah-rumah baca di level RT atau lingkungan atau Dusun, Program kelompok-kelompok Berantas Buta Aksara untuk para orangtua yang sudah tidak memungkinkan lagi duduk di bangku sekolah formal agar terbebas dari buta aksara. Pada akhirnya, kita harus sadari bahwa perkara aksara ini sangat penting kaitannya dengan kualitas hidup manusia. Selamat Hari Aksara, Semoga Sulbar Secepatnya Bebas Buta Aksara.

Biodata Penulis


Nama : Kartika Usmanti, S.ST
Tempat/Tanggal Lahir : Semarang, 07 Oktober 1986
Pendidikan : D.IV/S1 : Jurusan Statistik Ekonomi Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta.
Pekerjaan : Statistisi pada Badan Pusat Statistik (BPS) Prov. Sulawesi Barat
Alamat (sekarang) : BTN Andalusia Residence Blok F/3 Mamuju
No Hp/WA : 081328253790
Email : kartika.usmanti@gmail.com
usmanti@bps.go.id

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved