OPINI

Kasak Kusuk Kenaikan Mie Instan, Bukti Belum Total Swasembada

Dalam aspek produksi negara dalam Islam tidak akan menghentikan impor dan akan memberdayakan pertanian.

Editor: Ilham Mulyawan
Tribun-Sulbar.com/Fahrun Ramli
Mie instan tersusun rapi di etalase Alfamidi Jl Pababari, Kelurahan Karema, Mamuju, Sulbar. 

Fakta tersebut sejatinya menjadi bukti bahwa cengkraman kapitalisme dan keterikatan Indonesia dalam perjanjian internasional seperti WTO menjadikannya tidak mandiri selalu bergantung pada pangan luar negeri.

Karena itu selama negeri ini menerapkan sistem kapitalisme swasembada hakiki tidak akan pernah terwujud persoalannya kelangkaan hingga naiknya harga pangan akan selalu menghantui masyarakat.

Pangan adalah masalah krusial karena itu negara seharusnya tidak boleh bergantung pada negara lain. Negara seharusnya memberikan subsidi besar bagi para petani agar mereka bisa memproduksi pangan dengan produksi ringan dan keuntungan bisa besar.

Rasulullah SAW sudah pernah mencontohkan bagaimana politik agraria yang berkeadilan. Menghidupkan tanah mati, mengklasifikasikan kepemilikan harta, untuk dimanfaatkan dan dikelola oleh masyarakat.

Politik pertanian dalam Islam mengacu pada produksi pertanian dan produksi pangan yang adil.

Dalam aspek produksi negara dalam Islam tidak akan menghentikan impor dan akan memberdayakan pertanian.

Negara tidak membiarkan lahan pertanian habis untuk peningkatan sektor industri. Sebab pertanian sangat erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.

Dalam hal produksi negara juga akan menerapkan kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian.

Intensifikasi dilakukan dengan meningkatkan produktivitas lahan yang sudah tersedia, negara dapat mengupayakan dengan penyebarluasan dan teknologi budidaya terbaru dikalangan para petani, membantu pengadaan mesin-mesin pertanian, benih unggul serta sarana produksi pertanian lainnya.

Negara tidak boleh melakukan ekspor pangan hingga kebutuhan pokok individu bisa terpenuhi dengan baik.

Negara memberikan modal kepada siapa saja yang tidak mampu. Hal ini pernah dilakukan oleh khilafah Umar bin Khattab dengan memberikan harta Baitul mal kepada petani di Iraq yang dapat membantu mereka menggarap pertanian serta memenuhi hajat kebutuhan mereka tanpa meminta imbalan dari mereka.

Adapun ekstensifikasi dapat dilakukan dengan pertama membuka lahan lahan baru dan menghidupkan tanah mati, menghidupkan tanah mati artinya mengelola tanah atau menjadikan tanah tersebut siap langsung ditanami.

Setiap tanah yang mati jika dihidupkan oleh seseorang adalah menjadi milik orang bersangkutan. kedua, setiap orang yang memiliki tanah akan diperintahkan untuk mengelola tanahnya.

Siapa saja yang membutuhkan biaya untuk mengelola tanah negara akan memberikan modal untuk dikelola secara optimal.

Halaman
123
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved