HUT Kemerdekaan

KISAH Kegigihan Andi Depu, Pejuang Mandar Berani Pertahankan Merah Putih Agar Tetap berkibar

Andi Depu mengaku pernah menyamar untuk kelabui tentara musuh dengan berpakaian ala laki-laki, jadi nelayan bahkan pernah bersembunyi di sampan

Editor: Ilham Mulyawan
Farid Wajid untuk Tribun Sulbar
Kepala Dinas PAriwisata Sulbar, Farid Wajdi berkisah tentang sosok heroik Andi Depu 

Antara Tahun 1983 sampai Tahun 1984, sosok sang pemeluk tiang merah putih ini, datang ke Tinambung, daerah kelahirannya dengan menggunakan kendaraan pribadi jenis kijang kotak yang dimodifikasi bagian belakangnya mirip Toyota hardtop.

Nomor platnya cantik, DD 1945, yang konon diberikan Panglima M. Yusuf, ketika masih menjabat sebagai Menhankam.

Hadiah mobil kijang kotak ini sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan negara, kepada Andi Depu sang pejuang kemerdekaan Sulawesi Barat.

Suatu hari, sehari sebelum HUT kemerdekaan, tepatnya 16 Agustus 1983, Andi Depu tengah berada di kediamannya di Tinambung.

Penulis saat itu masih duduk di kelas 2 Madrasah Tsanawiyah.

"Kamu dipanggil Maraqdia Towaine (panggilan khas beliau di mandar)" ujar seorang kolega saya.

"Ditunggu Sekarang di kandemeng" tambahnya.

Saya bergegas ke tempatnya. Saat itu beliau sedang menonton acara televisi pidato kenegeraan Presiden Soeharto. Dengan isyarat tangannya, saya diminta mendekat ke kursi tali yang ia tempati duduk, untuk memijati betisnya. Mata beliau tetap tertuju ke layar televisi merek Nasional, layar hitam putih , mendengarkan kebijakan-kebijakan apa yang akan dikeluarkan presiden, terkait dengan pembangunan kesejahteraan bangsa.

Ikut larut dalam 'kesibukan' beliau menyaksikan pidato Soeharto, penulis juga ikut mendengarkan ceritra tentang bagaimana susahnya memperjuangkan merah putih pada masanya perjuangannya.

Perjuangan pergerakan kemerdekaan yang dialami.

Lari dan bersembunyi dari tentara belanda dań mata-mata kolonial.

Kepada penulis, Andi Depu mengaku pernah menyamar untuk kelabui tentara musuh dengan berpakaian ala laki-laki, jadi nelayan bahkan pernah bersembunyi lama di dalam sampan.

Sampannya ditutup dengan daun kelapa kering.

Namun beberap kali juga ditangkap karena tidak mau mengubah pendiriannya dalam mempertahankan merah putih.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved