Opini

Merdeka di Ruang Digital

Kehidupan manusia mengalami perubahan fase sejak munculnya internet. Secara positif ini membuka peluang yang lebih kompetitif.

Dok Shalahuddin
Relawan TIK Sulawesi Barat Shalahuddin, S.Sos., MM 

Oleh : Shalahuddin (Relawan TIK Sulawesi Barat)


TRIBUN-SULBAR.COM - Separuh dari aktifitas kita sehari-hari memang kini berada di media sosial. Bahkan tak jarang telah mendominasi dari segenap rangkaian kegiatan kita dalam dua puluh empat jam. Pasca kehadiran internet, kita mendapati teknologi mampu mengoneksikan kita dalam satu waktu dari tempat berbeda. Sederhananya, persoalan akses terpecahkan dengan teknologi ini. Tak hanya untuk mencari tetapi juga untuk menyebar informasi.

Kita mengalami satu fase sosial yang dramatis oleh kehadiran internet dalam kehidupan kita. Pergeseran citizen menjadi netizen merupakan perjalanan tak terpisahkan dari andil teknologi internet. Kita dihadapkan pada kesetaraan akses ruang sosial baru. Antrian “kasta sosial” di ruang maya tak sesumpek pada realitas nyata yang butuh deretan panjang untuk dapat menunjukkan potensi dan eksistensi diri dihadapan publik.

Secara positif ini membuka peluang yang lebih kompetitif. Sebab kompetensi tak lagi dikungkung pada satu aktifitas saja untuk menjadi identitas sosial kita. Meski diakui identitas sosial dimasa depan berpotensi makin buyar dengan hadirnya piranti IT menjembatani aktifitas dijalankan secara bersamaan pada segmen dan menghasilkan produk berbeda.

Meski demikian, tantangan yang kini mulai dirasakan adalah bagaimana dengan komitmen tanggung jawab sosial kita dalam menggunakan fasilitas tanpa batas ini. Tanggung jawab ini harus berdasar pada nilai respek atau penghargaan terhadap harkat-martabat manusia dan hak asasi manusia (Richardson & Milovidov, 2019).

Mengapa ini menjadi hal penting, sebab kita berharap ruang digital menjadi ruang yang baik. Tak hanya bagi kita untuk mendapat dan menerima informasi, tetapi juga kebaikan untuk orang lain yang memiliki kepentingan yang sama dalam mengakses teknologi ini.

Kita memahami bahwa semua pihak memiliki hak untuk mencari, mendapatkan informasi hingga berekspresi di ruang maya. Namun hak-hak yang didorong mestinya tetap menjaga ritme agar tak terkesan mendistorsi hak orang lain pada media yang sama.

Asal muasal intoleransi dimulai dari aktifitas kita secara tak sengaja mengisi ruang yang mestinya menjadi hak orang lain. Termasuk di dalamnya menggerus otoritas pihak berkompeten untuk pemecahan satu persoalan tertentu. Sehingga penting untuk menata netiket dalam penggunaan platform digital yang relatif lebih bebas.

Saat ini bagi kita yang telah melek IT sudah semestinya turut andil dalam pembangunan masyarakat yang lebih sehat. Membangun dedikasi untuk senantiasa mengedukasi kerabat yang kurang menyadari pentingnya menata interaksi diruang digital. Kontribusi dapat dimulai dari penyadaran bahwa kerusakan tatanan sosial bisa saling berpengaruh. Baik antara dunia nyata ke dunia maya maupun sebaliknya. Sebab kehidupan masyarakat hari ini nyaris tak dapat dipisahkan antara imaji yang dibangun di dunia nyata dan dunia maya. Keduanya makin terkait meski beda ruang. Jika diibaratkan maka realitas yang tampak adalah salinan antar keduanya.

Demikian halnya jika melihat pada lapisan sosial baru yang ada pada dengan generasi baru beranjak remaja hari ini. Sejak lahir mereka akrab dengan adiksi online game, uang digital hingga haru biru imajiner media sosial.

Kehadiran paltform digital jangan sampai mengambil alih hak kepengasuhan sebagai orang tua atau guru. Khususnya dalam pembentukan karakter mereka. Tentu kita tak ingin platform digital membenamkan mereka dalam kesepian dan kesulitan menemukan jati diri mereka sendiri. Sebab ruang maya memberi fasilitas mereka untuk dapat belajar, bermain, berkeluh kesah, hingga membentuk komunitas sosial sendiri. Akhirnya mereka akan bergerak secara sosial tetapi berjarak dengan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya atau hanya menjadi sebuah tatanan simulakra seperti yang disebut Jean Baudrillard. Mereka hidup tanpa basis realitas yang jelas sebab kehidupan sosialnya dibangun atas citra dan gambar temporer (tiada yang asli).

Ketika hal ini terjadi, maka kita masuk dalam fase teknologi informasi dan komunikasi menjadi entitas penentu tatanan kehidupan masyarakat. Padahal sebelumnya, teknologi hanyalah alat. Semestinya penentu adalah penggunanya (manusia).

Kita berharap kesadaran itu terbangun ditengah nuansa dan semangat kita merdeka dari segala kuasa yang merenggut hak-hak dan otoritas kita sebagai manusia. Sebab dari paradigma mana pun, manusia tetaplah makhluk yang mestinya mampu menempatkan dirinya sebagai khalifah. Bukan sebagai instrumen pelengkap.

Jika awalnya internet dibangun untuk memudahkan orang dewasa, kini dan nanti kehadirannya telah mendesain masa depan anak-anak Indonesia. Sebelum terlambat jika tak ingin menyebut kita terjajah, maka sudah sepantasnya segenap instrumen yang akan membentuk imun sosial kita dimasa depan mampu lebih adaptif sejak awal. Mulai dari lembaga pendidikan, keluarga hingga pemangku kebijakan. Sebab kemerdekaan kita secara sosial sangat ditentukan kemana arah pikir dan posisi kita dalam menjalin persahabatan dengan teknologi informasi dan komunikasi. Akhirnya diujung tulisan ini, penulis mengucapkan Selamat menjemput kemerdekaan ditengah arus pesatnya perkembangan TIK. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved