Berita Pasangkayu

Bapenda Pasangkayu Godok Program Desa Taat Pajak, Desa Pagiang Jadi Percontohan

“Kemudian secara tidak langsung tentu sangat berperan dalam mengurangi angka stunting dan kemiskinan,” tambahnya.

Penulis: Egi Sugianto | Editor: Hasrul Rusdi
Egi Sugianto/Tribun-Sulbar.com
Kepala Bapenda Pasangkayu, Arhamuddin. 

TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Pasangkayu, mulai menggodok program 'Desa Taat Pajak' untuk meningkatkan pajak di daerah ini.

Bukan itu saja, Bapenda juga tengah berinovasi dengan formulasi satu program yang di dalamnya bicara soal upaya mengurangi angka stunting dan kemiskinan.

Kepala Bapenda Pasangkayu, Arhamuddin SE MAP, mengatakan, program 'Desa Taat Pajak' rencananya bakal dilaunching pada akhir Agustus 2022 mendatang.

Desa Pangiang, Kecamatan Bambalamotu, dipilih sebagai sasaran program, sekaligus menjadi desa percontohan taat pajak.

“Program Desa Taat Pajak ini, kita menerapkan strategi kolaborasi dengan konsep kemandirian,” kata Arhamuddin, di Kantor Bapenda, Jl Ir Soekarno Kelurahan Pasangkayu, Jumat (29/7/2022).

Baca juga: Teken Addendum Bantuan Hukum 2022, Faisol: Optimalkan Bantuan Hukum untuk Masyarakat

Baca juga: Kejati Sulbar Limpahkan Kasus Andi Dodi Hermawan ke Pengadilan Negeri Mamuju, Tunggu Jadwal Sidang

Kepala Bapenda Pasangkayu, Arhamuddin.
Kepala Bapenda Pasangkayu, Arhamuddin. (Egi Sugianto/Tribun-Sulbar.com)

Dijelaskan strategi kolaborasi dengan konsep kemandirian ini, nantinya akan melibatkan lintas sektor OPD terkait, pemerintah desa, BUMDes, dusun, penyuluh pertanian, Babinsa, Bhabinkamtibmas.

“Wujud kegiatan Desa Taat Pajak, yakni memotivasi masyarakat melakukan pemanfaatan pekarangan rumah. Contohnya, kita motivasi masyarakat untuk menanam sayuran dan buah-buahan, disini teman-teman penyuluh pertanian akan terlibat,” paparnya.

Dengan kolaborasi lintas sektor pelaksanaan program akan maksimal.

Olehnya itu, mantan Plt Kepala Bappeda Pasangkayu ini, berharap agar masing-masing pihak yang terlibat bisa menjalankan peran sesuai fungsinya masing-masing.

Dikatakan setelah program berjalan dan tanaman sayuran dan buah-buahan berhasil dan telah dipanen, sebagian akan dijual ke BUMDes, sebagian lagi dikonsumsi sendiri untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

“Setidaknya ibu hamil di desa itu dipastikan dapat mengkonsumsi sayur dan buahan, tanpa harus mengeluarkan uang lagi. Karena sudah tersedia di pekarangan rumah. Jadi itu konsep kemandiriannya,” ucapnya.

“Kemudian secara tidak langsung tentu sangat berperan dalam mengurangi angka stunting dan kemiskinan,” tambahnya.

Desa Pangiang menjadi percontohan karena sumber daya yang dibutuhkan tersedia tersedia di sana.

Disamping itu, Pemerintah Desa Pagiang sangat merespons program itu.(*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Egi Sugianto

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved