Burung Maleo

Diambang Kepunahan, Burung Maleo Mutiara Pengembangan Destinasi Wisata Alam di Pasangkayu

Pasangkayu syarat kaya akan potensi wisata dari segi sumber daya alam yang dimiliki.

Penulis: Egi Sugianto | Editor: Nurhadi Hasbi
Tribun-Sulbar.com/Egi Sugianto
Patung burung maleo jadi salah satu ikon Pasangkayu, yang disimpan di depan anjungan Pasangkayu, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Pasangkayu Kecamatan Pasangkayu, Kamis (28/7/2022). 

Di kabupaten Pasangkayu, setidaknya terdapat beberapa titik lokasi bertelur burung Maleo. Diantaranya, pesisir Sarasa, Tikke, Koa-koa, dan Letawa.

Isu ekologi menjadi salah satu argumentasi intelektual, mengapa KPU Pasangkayu, menjadikan Maleo sebagai maskot Pilkada.

Sudah tentu pemerintah dituntut memerhatikan aspek ekologis dalam menjalankan pembangunan. Mainstreaming (pengarusutamaan) isu lingkungan sudah saatnya dimulai tanpa harus menunggu datangnya bencana. Bicara Maleo, tentu akan bicara banyak aspek, mulai dari kehutanan, pesisir, dan kebudayaan.

Disinilah aras berpikir jajaran KPU, membungkus Pilkada Pasangkayu 2020 dengan brand Si Maleo.

Perlunya Perhatian Penuh

Sebelumnya, Tribun-Sulbar.com memberitakan perlunya perhatian penuh terhadap pelestarian Burung Maleo.

Burung Maleo dikenal sebagai burung endemik di Pulau Sulawesi.

Sementara, beberapa referensi ilmiah, Maleo ditemukan di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Sedangkan, dalam peta sebaran Maleo, Sulawesi Barat tidak dicantumkan.

Ironis sebab fakta di lapangan, di Sulawesi Barat ada Burung Maleo, khususnya Mamuju, Mamuju Tengah dan Pasangkayu.

"Kabarnya juga ada di Polewali Mandar, tapi itu harus dicek langsung di lapangan," kata Pemerhati Lingkungan, Ridwan Alimuddin, bulan April 2022 lalu.

Salah satu dampak jika Sulawesi Barat tidak dianggap memiliki Burung Maleo, kebijakan perlindungannya menjadi minim.

Seperti habitat Burung Maleo di Sulawesi Barat rusak, digantikan lahan sawit, pemukiman, tanah untuk tempat telurnya ditambang.

"Apakah sudah ada kawasan cagar alam atau perlindungan untuk Burung Maleo di Sulawesi Barat?," tanya Ridwan.

Malah, pusat pemerintahan Sulawesi Barat di Sumareq, signifikan merusak habitat Mamuju.

Alasannya, karena semua pihak tidak sadar bahwa hutan-hutan, yang meski dekat dengan pantai, adalah habitat Burung Maleo.

"Kita tidak terlambat untuk menyelamatkan Burung Maleo yang dalam bahasa Mamuju disebut "mamuang". Kita jangan puas bahwa telah menyelamatkan sosok Burung Maleo di logo porda tapi di sisi lain tak memberi perhatian kepadanya," ungkap Ridwan.

Akan sangat menyedihkan kalau orang Sulbar tahunya Hotel Maleo, tapi tidak tahu bahwa burung langka ini ada di lingkungan Sulbar.

Selain itu, dalam 1-2 tahun terakhir beberapa teman mulai mengumpulkan data tentang keberadaan burung maleo di Sulawesi Barat.

"Fotografer Yusuf Wahil sudah memiliki dokumentasi tentang keberadaan Burung Maleo di Mamuju Tengah. Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Sulawesi Barat, Dr. Rita Bulan juga menjadikan kajian Burung Maleo sebagai bagian riset penting di kampusnya. Beberapa individu pun terlibat membantu kampanye menyelamatkan maleo Sulawesi Barat. Di media sosial kami pakai tagar #savemaleosulbar jika memposting poster-poster literasi maleo," bebernya.(*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Egi Sugianto

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved