Burung Maleo

Diambang Kepunahan, Burung Maleo Mutiara Pengembangan Destinasi Wisata Alam di Pasangkayu

Pasangkayu syarat kaya akan potensi wisata dari segi sumber daya alam yang dimiliki.

Penulis: Egi Sugianto | Editor: Nurhadi Hasbi
Tribun-Sulbar.com/Egi Sugianto
Patung burung maleo jadi salah satu ikon Pasangkayu, yang disimpan di depan anjungan Pasangkayu, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Pasangkayu Kecamatan Pasangkayu, Kamis (28/7/2022). 

“Burung maleo ini, adalah burung dilindungi pemerintah. Ini adalah kekayaan dimiliki Pasangkayu yang harus dikembangkan. Selama ini, orang-orang hanya tahu, burung maleo ada di Sulawesi Tengah atau di Gorontalo, padahal Sulbar juga ada tepatnya di Pasangkayu,” ujarnya.

Opsi yang ditawarkan untuk pengembangan wisata alam satu ini, Disbudpar Pasangkayu disarankan mencanankan Desa Ekowisata dengan membuat penangkaran burung maleo itu.

“Jika ini mampu diseriusi, maka Pasangkayu dapat keuntungan ganda. Pertama, Pasangkayu sudah ikut melestarikan,kedua tentu akan mendukung PAD kita, karena akan banyak wisatawan yang datang,” saran mantan fotografer Pasangkayu ini.

M Waliyuddin Pawelai, menyebut keberadaan Pasangkayu atau Sulbar secara umum sangat dengan Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan, dibandingkan dengan Sulawesi Tengah dan Gorontalo sebagai daerah dikenal terdapat populasi burung maleo.

“Menyambut perpindahan IKN, proyeksi pengembangan wisata juga harus dipikirkan. Salah satunya wisata alam, misalnya burung maleo ini karena ada nilai di dalam dan sangat potensi untuk dikebankan ,” ucapnya.

Cara bertelur yang unik jadi daya tarik tersendiri wisatawan

Keprihatinan M Waliyuddin Pawelai, keberadaan burung maleo di Pasangkayu muncul saat pertama kali ikut Expo pameran di Jakarta saat awal-awal Pasangkayu definitif jadi kabupaten antara tahun 2005-2006.

Waktu itu, kenang M Waliyuddin Pawelai, saat di pameran di Jakarta, ia dan tim menampilkan habitat populasi burung maleo.

Bahkan, telur burung ikut dibawa ke Jakarta dan menjadi daya tarik tersendiri pengunjung di sana.

Daya tarik burung maleo, yang membuat penasaran sebagian orang yang belum mengenal burung endemik sulawesi itu, adalah cara bertelur yang tidak dierami.

Kemudian setelah menetas, maka akan mandiri di alam liar.

“Memang maleo ini, sangat unik. Dia saat bertelur juga membuat lubang kecoan. Nah ini bisa saksikan, apabila penangkaran sudah ada, dari kejauhan kita bisa menggunakan alat teropong,” jelasnya.

Karena populasi burung maleo di Pasangkayu sudah diambang kepunahan dan terkesan tak ada perhatian dari masyarakat dan pemerintah, sehingga tepat jika ini dijadikan sebagai objek wisata alam baru di Bumi Vova Sanggayu.

“Ini tidak sulit sebelum kita lambat. Karena di daerah di Sulawesi Tengah atau di Parigi, ada penangkaran di sana. Kita bisa ambil telurnya untuk kita kembangkan di daerah kita,” jelasnya.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved