OPINI

Kontestasi Narasi dan Paham Keagamaan di Media Sosial

Pada kalkulasi penggunaannya data Sulawesi Selatan tahun 2021 menunjukkan WhatsApp merupakan aplikasi yang paling lama digunakan per hari.

Editor: Hasrul Rusdi
Ist/Tribun-Sulbar.com
Shalahuddin, S.Sos., MM, Relawan TIK/Korbid Media dan Informasi LDNU Sulbar 

Oleh: Shalahuddin, S.Sos., MM, Relawan TIK/Korbid Media & Informasi LDNU Sulbar

Ekspresi dari paham radikal(isme) pada berbagai jenjang saat ini menjadi atensi banyak pihak. Tak terkecuali bagi pegiat literasi digital.

Betapa tidak, media digital berbasis internet (media sosial) salah satu platform yang ramai sebagai ruang ekspresi sosial masa kini. Termasuk di dalamnya ekspresi beragama.

Tak sedikit postingan di media sosial yang mengandung narasi radikalisme memicu munculnya konflik horizontal antar anak bangsa. Muaranya adalah disintegrasi.

Menyikapi hal ini, melalui kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, membentuk program literasi digital untuk penguatan kapasitas bagi komunitas.

Termasuk penguatan sumber daya manusia pada literasi digital yang mengurai ancaman radikalisme di ruang digital.

Komunitas yang konsen terhadap penyuluhan agama di Sulawesi satu diantara sasaran program ini. Tentu dalam hal ini dengan menyuguhkan informasi tentang perkembangan budaya digital yang ada saat ini.

Saat ini dengan segenap perkembangan infrastruktur jaringan telekomunikasi, teknologi informasi pun kian variatif untuk mengakses internet dan ragam platform media digital.

Sehingga dianggap penting untuk mengajak seluruh stakeholder agar mampu beradaptasi. Secara khusus bagi kelompok yang menjadi garda terdepan dalam melakukan penyuluhan agama.

Bagaimana pun juga, mereka akan bertemu dengan kelompok masyarakat yang kerap akan membawa realitas dunia digital dalam relasinya secara langsung di masyarakat.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved