OPINI

Liberalisasi Pendidikan

Padahal dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan seluruh masyarakat Indonesia.

Editor: Hasrul Rusdi
Ist/Tribun-Sulbar.com
Muslimin. M, Pemerhati Pendidikan/Akademisi 

Oleh: Muslimin. M, Pemerhati Pendidikan/Akademisi

Tulisan ini terobsesi dari kondisi pendidikan beberapa tahun terakhir ini dan tentu saja juga dari hasil diskusi-diskusi dengan berbagai komunitas, salah satu yang menjadi hangat adalah tentang komersialisasi pendidikan dan cukup mahalnya biaya pendidikan terutama mahasiswa yang baru masuk kuliah.

Bahwa kemudian pemerintah telah sungguh-sungguh memenuhi hak warganya dalam mendapatkan pendidikan yang murah, tentu kita juga tidak menutup mata sebab sekolah-sekolah negeri dari semua jenjang memang bebas biaya ( gratis) dan itu tentu kita apresiasi sebagai ikhtiar nyata bagi warganya.

Dalam konteks ini ketika kita membicarakan persoalan liberalisasi pendidikan di Indonesia, maka penting bagi kita untuk menelusuri faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya proses liberalisasi pendidikan itu sendiri.

Di Indonesia liberalisasi Pendidikan bisa dikatakan terkait dengan bermula dari lahirnya UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Asing dan UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tentu bersifat sistemik pada program-program turunannya pada tataran kebijakan yaitu pertama, Badan Hukum Milik Negara;

Kedua, Sekolah Bertaraf Internasional; Ketiga, World Class University; Keempat, PP No. 77 Tahun 2007 Tentang Bidang Usaha Terbuka dan Batas Kepemilikan Asing; Kelima, Vokasionalisasi Pendidikan Tinggi; Keenam, Manajemen Berbasis Sekolah; dan Ketujuh, Badan Hukum Pendidikan.

Artinya bahwa regulasi diatas memang telah memberi ruang dalam tata kelola pendidikan secara lebih luas termasuk memberi ruang untuk melakukan kerjasama dengan pihak manapun demi tercapainya tujuan pendidikan yang lebih baik.

Dalam konteks ini tentu kita tidak selalu memaknai negatif sebab tata kelola pendidikan itu memang harus dinamis, harus membuka diri dengan dunia luar sebab konektifitas dalam tata kelolanya memang di butuhkan sebagai salah satu strategi dalam memajukan pendidikan secara umum.

Ketika kemudian ada program-program yang memungkinkan terjadinya praktik jual-beli atau komersialisasi Pendidikan yang dimana tidak lagi menyediakan fasilitas untuk menuntut ilmu yang terjangkau bagi setiap kalangan, dan tak dapat dihindarkan bahwa pada faktanya neoliberalisme ini hadir dan selalu membayangi berbagai elemen-elemen yang ada dalam sistem Pendidikan.

Dalam dunia Pendidikan dengan posisi yang tidak begitu menyenangkan, maka itulah salah satu masalah yang memang banyak menghantui masyarakat kita ditengah kemampuan ekonomi yang terbatas.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved