OPINI

Inflasi Indonesia Tertinggi Selama 5 Tahun Terakhir

Bahkan, inflasi tahunan bulan April 2022 merupakan rekor tertinggi selama hampir 5 tahun terakhir sejak inflasi tahunan Desember 2017.

Editor: Hasrul Rusdi
Ist/Tribun-Sulbar.com
Muhammad Mitsaq Zamir, Statistisi Pertama BPS Provinsi Sulawesi Barat 

Oleh: Muhammad Mitsaq Zamir, Statistisi Pertama BPS Provinsi Sulawesi Barat

Inflasi Indonesia menyentuh level tertingginya selama hampir 5 tahun terakhir menyusul kelangkaan suplai makanan dan energi pada level global yang akhirnya ikut berdampak pada pasar domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal Juni lalu melaporkan bahwa level inflasi tahunan pada bulan Mei (year on year) berada pada posisi 3,55, meningkat dibandingkan level inflasi tahunan pada bulan April yang sebesar 3,47.

Bahkan, inflasi tahunan bulan April 2022 merupakan rekor tertinggi selama hampir 5 tahun terakhir sejak inflasi tahunan Desember 2017.

BPS melaporkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor utama pada inflasi bulan Mei.

Dari 4 subkelompok pada kelompok ini, seluruhnya mengalami inflasi dengan subkelompok makanan dengan inflasi tertinggi.

Komoditas telur ayam, ikan segar, serta bawang merah memberikan andil yang signifikan pada inflasi kelompok makanan ini.

Kemudian kelompok pengeluaran transportasi menjadi kontributor terbesar kedua pada inflasi Mei.

Hal ini menyusul meningkatnya harga tiket transportasi seiring meningkatnya harga bahan bakar pesawat terbang yang diakibatkan oleh melonjaknya harga minyak dunia.

Lonjakan inflasi ini juga dilaporkan telah terjadi di beberapa negara lainnya.

Faktor utamanya adalah adanya peningkatan pada harga-harga makanan dan energi secara global yang disebabkan lonjakan permintaan pasar akibat aktivitas pemulihan ekonomi setelah serangan virus pandemi covid-19.

Banyaknya permintaan pasar tersebut tidak diikuti oleh suplai yang memadai.

Perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina serta adanya boikot yang dialami oleh Rusia, ditambah lagi dengan ketidakmenentuan, cuaca pada negara penghasil makanan utama semakin memperburuk keadaan.

Sampai saat ini, telah ada 17 negara yang melakukan pembatasan ekspor makanan.

Tak ketinggalan, Indonesia pun ikut melakukan pelarangan pada ekspor minyak kelapa sawit, salah satu minyak nabati yang banyak dikonsumsi dunia.

Meskipun pelarangan ekspor menguntungkan pasar domestik, namun hal itu merugikan negara-negara yang mengandalkan pasokan impor (net importer).

Dimana, pengalaman masa lalu, aksi serupa menyebabkan mengetatnya ketersediaan pangan, memicu lonjakan harga, hingga mengancam ketahanan pangan terutama di negara miskin.

Gelombang lonjakan inflasi sebenarnya sudah mulai terlihat sejak bulan April setelah pemerintah mencabut batasan harga eceran tertinggi komoditas minyak goreng pada akhir bulan Maret, selain itu lonjakan permintaan pasar menjelang hari raya idul fitri juga berkontribusi pada inflasi bulan April.

Adanya pencabutan pada subsidi bahan bakar jenis pertamax juga sedikit banyak ikut memberikan andil pada inflasi.

Inflasi yang terjadi ini sebenarnya masih berada dalam rentang yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, yaitu berada pada kisaran 2-4 persen.

Namun demikian hal ini tetap patut diwaspadai karena telah terjadi peningkatan inflasi sejak bulan April, terlebih lagi inflasi bulan Mei telah mendekati batas yang ditetapkan oleh pemerintah.

Inflasi itu sendiri diartikan sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus
dalam jangka waktu tertentu.

Sedangkan kebalikan dari inflasi adalah deflasi, yang didefinisikan sebagai penurunan harga secara umum dan terus-menerus.

Dampak inflasi sendiri seringkali identik dengan efek negatif karena kenaikan harga barang sehingga membuat daya beli masyarakat menurun, terutama masyarakat berpendapatan menengah ke bawah Namun bukan berarti kita harus menghindar dari inflasi.

Inflasi tetap dibutuhkan oleh suatu negara selama inflasi tersebut berada pada kondisi terkendali karena akan mendorong meningkatnya aktivitas perekonomian suatu negara.

Salah satu contohnya, inflasi akan mendorong berkembangnya ekonomi karena permintaan barang dan jasa meningkat sehingga menyebabkan harganya naik.

Hal tersebut dapat mendorong para produsen untuk memperluas produksi sehingga memberikan lapangan kerja baru.

Adanya lonjakan inflasi yang sudah berlangsung selama dua bulan, serta adanya ketidakpastian pada kondisi ekonomi global seharusnya sudah menjadi sinyal bagi pemerintah untuk menyiapkan sabuk pengaman, hal ini diperparah dengan adanya 17 negara yang telah memberlakukan pembatasan keran impor yang tentu saja berdampak pada ketersediaan suplai komoditas di Indonesia.

Inflasi yang tidak terkontrol akan memicu terjadinya penurunan daya beli masyarakat secara umum, dan pada akhirnya akan memberikan tekanan pada tingkat konsumsi nasional.

Serangkaian kebijakan fiskal dan moneter perlu segera dilakukan oleh pemerintah demi mengontrol inflasi tetap berada pada level yang normal.

Pemerintah dapat mempertimbangkan untuk memberikan kebijakan-kebijakan yang bisa meringankan para produsen barang dan jasa demi menggenjot suplai barang dan jasa yang beredar di pasar.

Dengan meningkatnya suplai barang dan jasa, maka diharapkan harga barang dan jasa secara umum akan kembali ke level normalnya sehingga tingkat inflasi dapat tetap terjaga.(*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved