Ekonom Unsulbar Sebut Wajar Petani Sawit Layangkan Surat Terbuka ke Presiden Jokowi

"Produksi sawit tidak mampu diserap pasar dalam, sehingga terjadi penurunan harga," jelas Wahyu Maulid Adha.

Penulis: Fahrun Ramli | Editor: Hasrul Rusdi
Tribun-Sulbar.com/Abd Rahman
Para petani sawit di Desa Kalonding, Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Rabu (11/5/2022). 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU- Beredar surat terbuka untuk Joko Widodo dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit (Aspekpir) Indonesia.

Surat terbuka tersebut memuat tuntutan untuk mencabut kebijakan larangan ekspor Crude Palm Oil (CPO).

Kebijakan larangan ekspor CPO bersama produk turunannya sudah berlaku per 28 April 2022 kemarin.

Ketua senat Fakultas Ekonomi Unsulbar, Wahyu Maulid Adha menyebut hal tersebut wajar saja.

Sebab, menurutnya dampak laragan CPO membuat harga Tandan Buah Segar (TBS) anjlok.

Baca juga: Ruangan VIP Bandara Tampa Padang Dipercantik Menjelang Kedatangan Pj Gubernur Sulbar

Baca juga: Menang Atas Cagliari, Inter Jaga Asa Juara, Nerazzurri Paksa Milan Bertanding Hingga Akhir

Membuat penghasilan para petani menjadi melemah, semakin sulit penuhi kebutuhan harianya.

Akademisi Unsulbar itu menilai produksi sawit tidak mampu lagi diserap oleh pasar dalam negeri.

Ia melihat dari sisi ekonomi, turunya suatu harga barang karena ketidak seimbangan penawaran dan permintaan.

"Supplay dan demand tidak seimbang sehingga terjadi penurunan harga suatu barang," terang Wahyu Maulid Adha saat dihubungi, Senin (16/5/2022).

Dosen prodi Manajemen Fakultas Ekonomi Unsulbar itu menjelaskan peredaran bahan baku sawit berlebih.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved