Sudut Nalar

Minyak Goreng dan Watak Kehormatan

Tanpa berpikir lama, sejumlah swalayan tiba-tiba tampak menjadi pusat kerumunan massa di pagi buta.

Editor: Nurhadi Hasbi
Ustaz Nur Salim Ismail
Ustaz Nur Salim Ismail S. Th. I, M.Si. ketua LD PWNU Sulbar 

Namun, ada sisi lain yang menarik untuk disimak.

Andaikata kita adalah bagian dari kelompok masyarakat terpandang, tidak elok jika terlibat dalam praktik itu.

Bahkan jika perlu, janganlah memunculkan diri pada momen-momen yang bakal memberatkan kolega kita.

Jangan biarkan mereka terjebak melakukan kesalahan hanya karena tak ingin melukai perasaan kita.

Saya teringat cerita Guru saya yang tak ingin ke pasar.

Alasannya, ia tak ingin ada orang yang menjual dagangannya dengan harga murah hanya karena malu kepadanya.

"Saya ini sering pergi berdakwah. Sering berjumpa dengan penjual ikan. Rasanya tidak elok kalau saya membeli ikannya dengan super murah. Tapi itu wajar sebagai pembeli, ingin harga yang semurah-murahnya. Bila perlu, kita dapat gratis. Saya malu kalau saat dakwah di depannya nanti, ia ingat perlakuan saya kepadanya". Demikian pesan moral guru saya.

Catatan ini hanya sebatas pijakan untuk menegaskan betapa seringnya kewibawaan yang kita miliki, digunakan untuk merusak kehormatan dan reputasi sahabat karib kita.

Pada realitas yang lain, kehormatan kita cenderung menggiring pada praktik yang makin tidak manusiawi. Hanya karena alasan ketokohan, kita bebas membentak orang.

Hanya karena kewibawaan, kita bebas merampas hak orang. Bahkan memaksanya untuk "merasa" ikhlas dengan perlakuan kita.

Bukankah ini semacam berhala yang sedang tumbuh subur dalam hati kita?

Mari belajar untuk tetap terhormat, dengan tetap merawat segala bentuk sikap dan tindakan yang juga terhormat. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved