Ramadan 2022

Mengenal Santri Musiman di Pondok Pesantren Jareqjeq, Peserta dari Sulsel Hingga Papua

"Ada sekitar 100 an santri musiman datang. Mulai dari Sulsel, Sulteng hingga Papua yang jauh-jauh datang untuk belajar ngaji Kitab Kuning," ungkapnya.

Penulis: Habluddin Hambali | Editor: Hasrul Rusdi
Ist/Tribun-Sulbar.com
Suasana santri musiman saat belajar Kitab Kuning di pondok Pesantren Jareqjeq Pambusuang, Polman, Sulbar. 

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN- Memasuki bulan suci Ramadan, Pesantres Jareqjeq Pambusuang, Polewali Mandar (Polman) kembali menerina santri musiman.

Santri musiman adalah santri yang tidak melekat atau terikat.

Mereka adalah santri yang berasal dari pesantren lain sengaja datang untuk belajar ngaji Kitab Kuning.

Bahkan, ada yang masih berstatus sebagai mahasiswa di perguruan tinggi.

"Karena ada dua jenis santri di Pesantren Jareqjeq Pambusuang, pertama santri yang terdaftar di pesantren dan mondok, kedua santri musiman yang artinya tidak terikat," kata Ketua Yayasan Pesantren Jareqjeq, As'ad Sattari, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (11/4/2022).

Sementara itu, lanjut As'ad santri musiman ini biasanya datang belajar sampai satu pekan, dua pekan hingga satu bulan lamanya.

Baca juga: Buka Puasa di Battetangga, AIM Minta Warga Relakan Lahan untuk Pelebaran Jalan

Baca juga: Promosi ke Liga 1, RANS Cilegon FC Ungkap Gambaran Skuad Utama, 50 Persen Pemain Baru

Sedangkan, santri musiman ini rata-rata dari pondok pesantren lain yang libur saat bulan Ramadan dan memilih ke Pambusuang.

"Ada sekitar 100 an santri musiman datang. Mulai dari Sulsel, Sulteng hingga Papua yang jauh-jauh datang untuk belajar ngaji Kitab Kuning," ungkap As'ad.

Dia membeberkan santri yang baru pertama datang akan belajar dari dasar terlebih dahulu seperti "Sarapa' Galappo".

Kemudian, santri akan belajar "Nahwu Gantung".

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved