Opini

Membangun Masjid; Jiwa dan Raga

Di zaman Nabi Muhammad SAW, masjid bukan hanya sarana pemenuhan kebutuhan ritualitas. Lebih dari itu, masjid menjadi pusat konsolidasi keumatan.

Editor: Nurhadi Hasbi
dok pribadi
Ketua LDNU Sulawesi Barat, Kiyai Muda Nur Salim Ismail 

Oleh: Kiyai Muda Nur Salim Ismail
Ketua LDNU Sulawesi Barat

PEMBANGUNAN Masjid di berbagai wilayah cukup massif.

Ini dipicu oleh semangat teologis yang menjanjikan masa depan kehidupan setelah kematian.
Membangun masjid juga diyakini memberi keberkatan tersendiri bagi mereka yang telah melakukannya.

Namun disayangkan, semangat yang menggebu-gebu cenderung tidak menimbang aspek persatuan umat.

Ini dapat dilihat dengan padat merayapnya pembangunan tanpa merumuskan cita-cita ideal atas kehadiran sebuah Masjid.

Di zaman Nabi Muhammad SAW, masjid bukan hanya sarana pemenuhan kebutuhan ritualitas.
Lebih dari itu, masjid menjadi pusat konsolidasi keumatan.

Bahkan menjadi etalase penguatan ekonomi umat.

Berbalik dengan kondisi saat ini.

Kecenderungan orientasi membangun Masjid sudah masuk dalam wilayah ego sektoral.

Atas nama Mazhab, aliran, bahkan atas alasan pragmatis lainnya.

Lebih menyedihkan, sebab pembangunan masjid masih sangat bergantung pada kepentingan fisik.
Sementara aspek pembinaan umat seringkali diabaikan atas alasan keterbatasan anggaran.

Akibatnya dana umat habis terkuras oleh hasrat kemegahan semata.

Lalu apa langkah yang mesti ditempuh? Selain penataan manajemen kepengurusan, hal yang tak kalah pentingnya adalah dengan mengklasifikasi porsi anggaran operasional Masjid.

Kita dapat membaginya dalam tiga komponen:

Pertama, komponen pembangunan sarana. Seperti perbaikan sanitasi toilet, pengadaan AC, perbaikan instalasi listrik agar cahaya lampu tidak terlihat remang-remang dan perbaikan sound system.

Kedua, komponen pembinaan. Di antaranya pengembangan sarana pendidikan sekelas pengajian, majelis taklim, pembinaan remaja Masjid, paket jasa pelayanan I'tikaf dan lain-lain.

Ketiga, saving anggaran sebagai antisipasi terhadap kemungkinan adanya kebutuhan tak terduga.

Ketiga point di atas merupakan pintu masuk untuk menata Masjid agar benar-benar memberi makna bagi umat. Sekali lagi, bagi umat. Agar terwujud generasi yang kuat, jiwa dan raganya.(*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved