Opini

Membangun Masjid; Jiwa dan Raga

Di zaman Nabi Muhammad SAW, masjid bukan hanya sarana pemenuhan kebutuhan ritualitas. Lebih dari itu, masjid menjadi pusat konsolidasi keumatan.

Editor: Nurhadi Hasbi
dok pribadi
Ketua LDNU Sulawesi Barat, Kiyai Muda Nur Salim Ismail 

Oleh: Kiyai Muda Nur Salim Ismail
Ketua LDNU Sulawesi Barat

PEMBANGUNAN Masjid di berbagai wilayah cukup massif.

Ini dipicu oleh semangat teologis yang menjanjikan masa depan kehidupan setelah kematian.
Membangun masjid juga diyakini memberi keberkatan tersendiri bagi mereka yang telah melakukannya.

Namun disayangkan, semangat yang menggebu-gebu cenderung tidak menimbang aspek persatuan umat.

Ini dapat dilihat dengan padat merayapnya pembangunan tanpa merumuskan cita-cita ideal atas kehadiran sebuah Masjid.

Di zaman Nabi Muhammad SAW, masjid bukan hanya sarana pemenuhan kebutuhan ritualitas.
Lebih dari itu, masjid menjadi pusat konsolidasi keumatan.

Bahkan menjadi etalase penguatan ekonomi umat.

Berbalik dengan kondisi saat ini.

Kecenderungan orientasi membangun Masjid sudah masuk dalam wilayah ego sektoral.

Atas nama Mazhab, aliran, bahkan atas alasan pragmatis lainnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved