Opini

Setelah Ramadan Yang Sepi

Sebelumnya, selama 2 tahun berturut-turut, aktivitas ramadhan berlangsung sepi. Ada yang hanya menunaikan di rumah, ada yang main kucing-kucingan.

Editor: Nurhadi Hasbi
Ustaz Nur Salim Ismail
Ustaz Nur Salim Ismail S. Th. I, M.Si. ketua LD PWNU Sulbar 

Oleh: Nur Salim Ismail
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sulawesi Barat

MARHABAN ya Ramadhan. Tahun ini, umat Islam patut bersujud penuh syukur. Sebab telah dapat kembali meramaikan amaliyah Ramadhan di Masjid.

Tarawih dilancarkan, Tadarrus dirutinkan dan berbagai ibadah Sunnah lainnya.

Sebelumnya, selama 2 tahun berturut-turut, aktivitas ramadhan berlangsung sepi.

Ada yang hanya menunaikan di rumah, ada yang main kucing-kucingan. Ada pula yang berani gelap-gelapan dalam masjid.

Kuatir jika ditemukan oleh aparat.

Tahun ini seolah menjadi pembalasan, sekaligus tagihan.

Jika selama ini merasa kecewa dengan pembatasan, Ramadhan kali ini adalah waktu paling pas untuk membalasnya.

Jika selama ini dianggap telah dicurangi oleh berbagai aturan, maka inilah saatnya untuk menarik energi besar dari keberkatan Ramadhan.

Namun jika sebaliknya, atau prestasi Ramadhan berjalan landai, itu pertanda bahwa selama ini, kita hanya membual saja. Atau sebatas gertakan tanpa nyali yang dapat dibuktikan.

Karenanya, mari menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita. Luapkan segala doa-doa terbaik di hadapan Tuhan.

Pada setiap malam kita hamparkan harapan keberkahan. Serta pengakuan dosa penuh sesal.

Jangan beri sedikitpun celah bagi hawa nafsu untuk merasa tangguh menyeret kita dari kedekatan pada Ilahi.

Sebab, ada dua pintu yang bakal melemahkan. Pertama, rayuan untuk menurunkan semangat ibadah. Entah karena alasan kesibukan, maupun karena alasan lainnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved