Opini

Identifikasi Tingkat Kebisingan Pada Bangunan dan Dampaknya Terhadap Lingkungan Serta Manusia

Masalah kebisingan di Negara-negara berkembang, khususnya Negara yang memiliki dua musim sepanjang tahunnya seperti Indonesia

Editor: Ilham Mulyawan
ist
Ketua Stain Majene Sulawesi Barat, Prof Dr Wasilah Sahabuddin ST MT 

Oleh:

Prof Dr Wasilah Sahabuddin ST MT
Guru Besar Teknik Arsitektur UIN Alauddin Makassar dan Ketua STAIN Majene Sulawesi Barat

TRIBUN-SULBAR.COM - Masalah kebisingan di Negara-negara berkembang, khususnya Negara yang memiliki dua musim sepanjang tahunnya seperti Indonesia, seringkali lebih pelik dibandingkan dengan yang dihadapi oleh Negara-negara maju yang memiliki empat musim.

Salah satu alasan yang mendasari sikap ini adalah karena secara umum, belum ada informasi yang jelas mengenai akibat buruk kebisingan bagi kenyamanan dan Kesehatan manusia, serta adanya asumsi masyarakat bahwa belum ada regulasi atau pedoman ambang batas kebisingan khususnya bagi mereka yang bergerak di dunia rancang bangun (arsitek, kontraktor, interior, pengembang dan lain-lain).

Masjid atau Mushalla sebagai ruang tempat ibadah umat Islam, menuntut agar memberikan kenyamanan semaksimal mungkin bagi penggunanya sehingga kenyamanan ruang ibadah dapat membuat lebih khusyuk atau menjadikan kegiatan yang dilakukan lebih terasa lebih dekat dengan Allah. Salah satu faktor yang bisa mempengaruhi tingkat kenyamanan tersebut adalah bunyi atau suara.

Kenyamanan bunyi dipengaruhi oleh tingkat tekanan bunyi.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa tingkat kenyamanan bunyi ini memiliki ambang batas kebisingan. Bunyi dapat dikatakan “bising” apabila bunyi tersebut melebihi nilai ambang batas kebisingan.

Menurut Kinsler, Frey, Coppens & Sanders (2000), bahwa syarat bising yang dapat diterima untuk bangunan ibadah (Mesjid) adalah antara 25-35 dBA.

Terdapat dua alasan mengapa bunyi di sekitar lingkungan terbangun dan bunyi di dalam ruangan perlu diatur dalam bentuk regulasi atau pedoman dalam hal mendesain. Alasan pertama adalah untuk kesehatan pendengar, dan mutlak dipenuhi melalui desain yang tanggap terhadap lingkungan. Alasan kedua adalah untuk kenikmatan. Untuk alasan kedua bersifat disarankan.

Kebisingan (noise) lebih diartikan sebagai bunyi atau suara yang tidak dikehendaki (unwanted sound), berpotensi dapat mengganggu kenyamanan manusia yang dapat dirasakan oleh indera pendengaran.

Pengaruh kebisingan terhadap manusia secara fisik tidak saja mengganggu organ pendengaran, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan pada organ-organ tubuh yang lain, seperti yang dituliskan oleh Suma’mur (2009) dalam Pedoman Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja-HIPERKES, bahwa efek kebisingan berpengaruh negatif dalam kehidupan sehari-hari, seperti gangguan konsentrasi, pengalihan perhatian serta tidak fokus pada kegiatan yang sedang dilakukan.

Menurut Pumar (2019), menyatakan dalam jurnalnya bahwa kebisingan yang terpapar terhadap jamaah melakukan suatu aktivitas, akan mengakibatkan penurunan performa aktivitas yang dapat menyebabkan penurunan tingkat konsentrasi jamaah dalam menjalankan aktivitas dalam ruangan, sehingga dalam perancangan masjid perlu diperhatikan kenyamanan terhadap suara.

Menurut Sasongko et al (2000), pengaruh kebisingan juga dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan sistem jantung. Pengaruh bising secara psikologi, yaitu berupa penurunan efektivitas kerja dan kinerja seseorang (Asmaningprojo 1995).

Agresivitas warga yang tinggal di kawasan bising akan meningkat dengan bertambahnya tingkat kebisingan di kawasan tersebut dan inilah yang menyebabkan warga kurang mampu mengontrol diri maupun tingkah lakunya.

Pemaparan kebisingan secara terus-menerus mengakibatkan kerusakan menetap pada indera-indera pendengar (Sulistyani, Faturochman, dan Moh. 1993).

Gejala penurunan pendengaran disertai dengan timbulnya tinitus (telinga berdenging) (Z. Irma dan Intan 2013).

Permasalahan kebisingan yang paling utama yaitu bahwa efek yang ditimbulkan tidak secara langsung, melainkan secara bertahap. Seperti halnya kepekaan pendengaran akan berkurang dan semakin memburuk seiring dengan waktu terpaparnya (Ferianita Fachrul, Moerdjoko, dan Verogetta 2016).

Gelombang bunyi dapat merambat langsung melalui udara dari sumbernya ke telinga manusia, selain itu sebelum sampai ke telinga manusia, gelombang bunyi juga terpantul-pantul terlebih dahulu oleh permukaan bangunan, menembus dinding atau merambat melalui struktur bangunan (Satwiko 2009).

Elemen tersebut perlu dipahami dalam menilai penggunaan jenis material pada bidang vertikal, horizontal pada facade bangunan, serta penerapan pada outdoor yaitu penggunaan penghalang sebagai (barrier) membantu mengurangi kebisingan. Penghalang buatan seperti pagar dapat berfungsi sebagai barrier, guna mencegah pengaruh kebisingan yang masuk pada ruang merupakan salah satu alternatif penangkal suara (sound barrier), beberapa bangunan menerapkan pada ruang luar sehingga mengurangi kebisingan tidak langsung terhubung pada bangunan, pagar bidang masif, penggunaan unsur tanaman dan jenis bahan lainnya berpengaruh terhadap tingkat kebisingan seperti jumlah energi pantulan kebisingan ke dalam ruang hunian.

Dalam disiplin akustik bangunan, terutama ada dua media yang mentransmisikan suara di lingkungan bangunan; yaitu udara dan benda padat. Ketika kebisingan ditransmisikan melalui udara, kami menyebutnya kebisingan udara. Sedangkan jika ditransmisikan oleh benda padat, kita menyebutnya sebagai structure-borne noise.

Masalah yang paling umum ditemui ketika berurusan dengan akustik bangunan adalah bahwa perancang atau kontraktor tidak menerapkan strategi mitigasi kebisingan yang benar. Serta, belum adanya regulasi atau pedoman yang mengatur tentang jangkauan kebisingan suara baik dari dalam bangunan maupun ke luar bangunan.

Pada dasarnya manusia memiliki ambang batas suara tertentu yang dapat diterima dengan baik oleh panca indera pendengaran yaitu 90-100 dB. Ketika suara yang diterima melebihi ambang batas tersebut maka suara menjadi polusi atau bising. Oleh karenanya, untuk mengendalikan semua jenis kebisingan secara efektif, kita harus memahami (1) apa yang menggairahkan suara dan (2) bagaimana ia ditransmisikan.

Apabila Anda mendengar musik dari ruangan di sebelah rumah Anda, musik mungkin tidak mengganggu Anda karena dinding telah mengurangi intensitas suara sebelum mencapai rumah Anda. Namun, Anda mungkin lebih memperhatikan getaran jendela dan perabotan di sekitar Anda daripada musik yang Anda dengar. Jenis getaran ini adalah contoh kebisingan yang ditanggung oleh struktur bangunan. Sekarang, pertanyaannya adalah bagaimana suara yang tampaknya tidak bersalah ini bahkan dapat menggetarkan jendela Anda.

Ketika frekuensi suara cocok dengan frekuensi alami suatu benda, seperti kaca, benda tersebut akan berisilasi lebih kuat dibandingkan dengan frekuensi lainnya. Subwoofer adalah pengeras suara yang dirancang untuk menghasilkan suara berfrekuensi sangat rendah. Karena beberapa struktur bangunan memiliki frekuensi alami yang rendah, mereka akan bergetar ketika suara mengenai permukaannya.

Demikian juga pada kasus pengeras suara di Mesjid atau Mushalla, biasanya sound feedback dari Microphone atau pengeras suara yang menjadi 'sumber bising' karena tingkat desibel suara yang sangat tinggi hingga 150 dB dan terjadi secara spontan. Feedback merupakan suatu kondisi dimana terjadi dengung atau Noise yang begitu besar sehingga sangat mengganggu.

Penyebabnya ada banyak hal, seperti jika jarak Microphone dan Speaker terlalu dekat atau Speaker berhadapan persis dengan Microphone.

Kadang kondisi ini terjadi karena Sensitivitas Gain Input yang terlalu besar sehingga Amplifier menerima Input signal yang terlalu besar. Selain itu, adanya pantulan pada sudut ruangan terhadap posisi Speaker dan Microphone.

Suara melengking inilah yang dianggap banyak orang sangat menggangu.

Solusinya adalah mengatur tingkatan volume speaker, penempatan posisi pengeras suara yang tepat, penggunaan alat feedback destroyer atau menggantinya dengan perangkat pengeras suara yang baru.

Beberapa tingkat desibel dari suara dan durasi aman untuk mendengarnya:

Percakapan sehari-hari (30 dB): tidak ada Batasan, Suara AC dan kepadatan lalu lintas (80–85 dB): batas aman maksimal 2 jam, Knalpot sepeda motor (90–95 dB): batas aman maksimal 50 menit, Suara kereta yang mendekat atau acara olahraga skala sedang (100 dB): batas aman maksimal 15 menit, Earphone dengan volume penuh (110 dB): batas aman maksimal 5 menit, serta Pertunjukan musik rock (120 dB): bisa langsung menyakiti pendengaran. Suara di Atas 90 dB Bisa Membuat Telinga Sakit.

Dibidang arsitektur, terdapat banyak cara yang dapat dilakukan untuk mereduksi bising seperti memperhatikan radius sebaran suara, perancangan organisasi ruang, penggunaan parfum akustik seperti suara gemericik air, pemilihan material, pemasangan sound barrier dan lainnya.

Oleh karena itu adanya pedoman terkait pengeras suara dalam konsep desain bangunan sudah barang tentu bisa diterapkan. Kekuatan 100 dB menunjuk pada radius sebaran suara, dan akibat lanjutnya adalah radius dari tapak.

Dengan begitu letak musala/masjid ikut ditentukan oleh radius suara 100dB tersebut sehingga tidak ada yang dirugikan.

Perlu penyuluhan kepada masyarakat untuk memberi pengetahuan akan pentingnya kesehatan terkait tingkat kebisingan serta penggunaan barrier dan desain ruang luar sebagai pereduksi kebisingan. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved