Opini

Identifikasi Tingkat Kebisingan Pada Bangunan dan Dampaknya Terhadap Lingkungan Serta Manusia

Masalah kebisingan di Negara-negara berkembang, khususnya Negara yang memiliki dua musim sepanjang tahunnya seperti Indonesia

Editor: Ilham Mulyawan
ist
Ketua Stain Majene Sulawesi Barat, Prof Dr Wasilah Sahabuddin ST MT 

Solusinya adalah mengatur tingkatan volume speaker, penempatan posisi pengeras suara yang tepat, penggunaan alat feedback destroyer atau menggantinya dengan perangkat pengeras suara yang baru.

Beberapa tingkat desibel dari suara dan durasi aman untuk mendengarnya:

Percakapan sehari-hari (30 dB): tidak ada Batasan, Suara AC dan kepadatan lalu lintas (80–85 dB): batas aman maksimal 2 jam, Knalpot sepeda motor (90–95 dB): batas aman maksimal 50 menit, Suara kereta yang mendekat atau acara olahraga skala sedang (100 dB): batas aman maksimal 15 menit, Earphone dengan volume penuh (110 dB): batas aman maksimal 5 menit, serta Pertunjukan musik rock (120 dB): bisa langsung menyakiti pendengaran. Suara di Atas 90 dB Bisa Membuat Telinga Sakit.

Dibidang arsitektur, terdapat banyak cara yang dapat dilakukan untuk mereduksi bising seperti memperhatikan radius sebaran suara, perancangan organisasi ruang, penggunaan parfum akustik seperti suara gemericik air, pemilihan material, pemasangan sound barrier dan lainnya.

Oleh karena itu adanya pedoman terkait pengeras suara dalam konsep desain bangunan sudah barang tentu bisa diterapkan. Kekuatan 100 dB menunjuk pada radius sebaran suara, dan akibat lanjutnya adalah radius dari tapak.

Dengan begitu letak musala/masjid ikut ditentukan oleh radius suara 100dB tersebut sehingga tidak ada yang dirugikan.

Perlu penyuluhan kepada masyarakat untuk memberi pengetahuan akan pentingnya kesehatan terkait tingkat kebisingan serta penggunaan barrier dan desain ruang luar sebagai pereduksi kebisingan. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved