Opini

Identifikasi Tingkat Kebisingan Pada Bangunan dan Dampaknya Terhadap Lingkungan Serta Manusia

Masalah kebisingan di Negara-negara berkembang, khususnya Negara yang memiliki dua musim sepanjang tahunnya seperti Indonesia

Editor: Ilham Mulyawan
ist
Ketua Stain Majene Sulawesi Barat, Prof Dr Wasilah Sahabuddin ST MT 

Pemaparan kebisingan secara terus-menerus mengakibatkan kerusakan menetap pada indera-indera pendengar (Sulistyani, Faturochman, dan Moh. 1993).

Gejala penurunan pendengaran disertai dengan timbulnya tinitus (telinga berdenging) (Z. Irma dan Intan 2013).

Permasalahan kebisingan yang paling utama yaitu bahwa efek yang ditimbulkan tidak secara langsung, melainkan secara bertahap. Seperti halnya kepekaan pendengaran akan berkurang dan semakin memburuk seiring dengan waktu terpaparnya (Ferianita Fachrul, Moerdjoko, dan Verogetta 2016).

Gelombang bunyi dapat merambat langsung melalui udara dari sumbernya ke telinga manusia, selain itu sebelum sampai ke telinga manusia, gelombang bunyi juga terpantul-pantul terlebih dahulu oleh permukaan bangunan, menembus dinding atau merambat melalui struktur bangunan (Satwiko 2009).

Elemen tersebut perlu dipahami dalam menilai penggunaan jenis material pada bidang vertikal, horizontal pada facade bangunan, serta penerapan pada outdoor yaitu penggunaan penghalang sebagai (barrier) membantu mengurangi kebisingan. Penghalang buatan seperti pagar dapat berfungsi sebagai barrier, guna mencegah pengaruh kebisingan yang masuk pada ruang merupakan salah satu alternatif penangkal suara (sound barrier), beberapa bangunan menerapkan pada ruang luar sehingga mengurangi kebisingan tidak langsung terhubung pada bangunan, pagar bidang masif, penggunaan unsur tanaman dan jenis bahan lainnya berpengaruh terhadap tingkat kebisingan seperti jumlah energi pantulan kebisingan ke dalam ruang hunian.

Dalam disiplin akustik bangunan, terutama ada dua media yang mentransmisikan suara di lingkungan bangunan; yaitu udara dan benda padat. Ketika kebisingan ditransmisikan melalui udara, kami menyebutnya kebisingan udara. Sedangkan jika ditransmisikan oleh benda padat, kita menyebutnya sebagai structure-borne noise.

Masalah yang paling umum ditemui ketika berurusan dengan akustik bangunan adalah bahwa perancang atau kontraktor tidak menerapkan strategi mitigasi kebisingan yang benar. Serta, belum adanya regulasi atau pedoman yang mengatur tentang jangkauan kebisingan suara baik dari dalam bangunan maupun ke luar bangunan.

Pada dasarnya manusia memiliki ambang batas suara tertentu yang dapat diterima dengan baik oleh panca indera pendengaran yaitu 90-100 dB. Ketika suara yang diterima melebihi ambang batas tersebut maka suara menjadi polusi atau bising. Oleh karenanya, untuk mengendalikan semua jenis kebisingan secara efektif, kita harus memahami (1) apa yang menggairahkan suara dan (2) bagaimana ia ditransmisikan.

Apabila Anda mendengar musik dari ruangan di sebelah rumah Anda, musik mungkin tidak mengganggu Anda karena dinding telah mengurangi intensitas suara sebelum mencapai rumah Anda. Namun, Anda mungkin lebih memperhatikan getaran jendela dan perabotan di sekitar Anda daripada musik yang Anda dengar. Jenis getaran ini adalah contoh kebisingan yang ditanggung oleh struktur bangunan. Sekarang, pertanyaannya adalah bagaimana suara yang tampaknya tidak bersalah ini bahkan dapat menggetarkan jendela Anda.

Ketika frekuensi suara cocok dengan frekuensi alami suatu benda, seperti kaca, benda tersebut akan berisilasi lebih kuat dibandingkan dengan frekuensi lainnya. Subwoofer adalah pengeras suara yang dirancang untuk menghasilkan suara berfrekuensi sangat rendah. Karena beberapa struktur bangunan memiliki frekuensi alami yang rendah, mereka akan bergetar ketika suara mengenai permukaannya.

Demikian juga pada kasus pengeras suara di Mesjid atau Mushalla, biasanya sound feedback dari Microphone atau pengeras suara yang menjadi 'sumber bising' karena tingkat desibel suara yang sangat tinggi hingga 150 dB dan terjadi secara spontan. Feedback merupakan suatu kondisi dimana terjadi dengung atau Noise yang begitu besar sehingga sangat mengganggu.

Penyebabnya ada banyak hal, seperti jika jarak Microphone dan Speaker terlalu dekat atau Speaker berhadapan persis dengan Microphone.

Kadang kondisi ini terjadi karena Sensitivitas Gain Input yang terlalu besar sehingga Amplifier menerima Input signal yang terlalu besar. Selain itu, adanya pantulan pada sudut ruangan terhadap posisi Speaker dan Microphone.

Suara melengking inilah yang dianggap banyak orang sangat menggangu.

Halaman
123
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved