Opini

Omicron Mengganas, Ibadah Umat Muslim Terbatas?

Namun, kegembiraan tersebut menjadi sebuah kesedihan saat wabah Omicron menyapa dunia, salah satu varian virus Covid-19 yang memiliki kecepatan penula

Editor: Ilham Mulyawan
ISt
drg. Rubiah Lenrang 

Akibat kekeliruan dalam kebijakan penanganan pandemik, akhirnya umat islam harus menelan pil pahit, membatasi kegiatan ibadah bersama.

Tentu saja kekeliruan yang dimaksud adalah saat kasus Covid-19 mengalami kenaikan di beberapa negara di dunia, selayaknya perintah segera mengambil kebijakan untuk penanganan dan penguncian wilayah/lockdown.

Bukannya malah membiarkan warga negara asing yang berasal dari negara yang terserang wabah masuk ke Indonesia atau malah mengizinkan migrasi warga hanya karena alasan berwisata.

Mungkin kita perlu bermuhasabah atas kebijakan negeri ini.

Yakni melakukan koreksi yang mendasar atas asas pengaturan kehidupan, dari yang berbasis akal pikiran atau meraih kemanfaatan semata, menjadi pengaturan hidup yang berbasis aqidah dan aturan Islam.

Termasuk saat Allah SWT menguji masyarakat dengan wabah, Islam dengan syariatnya yang sempurna telah memberi tuntunan terbaik untuk menghadapi dan menyelesaikannya hingga tuntas.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Konsep lockdown dalam syariat Islam mengfokuskan pada aspek kesehatan dan keselamatan jiwa rakyatnya.

Sebagai aspek utama, tentu dilakukan peningkatan sistem fasilitas kesehatan dengan kualitas terbaik dan kuantitas yang sangat memadai.

Kemudian, pemeriksaan dan penelusuran terjadinya kasus positif akan ditangani dengan upaya dan riset paling mutakhir. Sementara protokol kesehatan disertai gerakan vaksinasi juga diterapkan di seluruh penjuru negeri melalui pengawasan yang terjamin dan manusiawi.

Selama lockdown, negara wajib memberikan beragam fasilitas pengganti atas dampak kebijakan lockdown, terutama ekonomi.
Anggaran pembiayaan ekonomi dan kesehatan dalam kekhilafahan Islam diperoleh dari Baitul Mal, yang berasal dari pengelolaan kekayaan alam secara mandiri tanpa intervensi negara asing.

Selama lockdown, Islam mengsyariatkan untuk meminimalisasi beragam aktivitas yang memicu kerumunan warga.

Sekaligus membatasi mobilitas hanya untuk pihak-pihak tertentu sesuai keperluan darurat semata, misalnya petugas yang memenuhi kebutuhan rakyat dan tenaga kesehatan.

Selain itu, syariat Islam menegaskan untuk menutup pintu-pintu kemungkinan masuknya lalu lintas warga negara asing ke dalam negeri terutama dari negara yang sedang terdampak wabah.

Pemimpin Islam yang amanah akan menyediakan tempat penanganan khusus dan isolasi tenaga kerja warga negara Islam yang datang dari luar negeri.

Serta penerapan kebijakan untuk menutup sementara jalur migrasi warga apalagi jika hanya tujuan wisata. (**)

Nama : drg. Rubiah Lenrang
Alamat: Polewali Mandar
Usia : 42 tahun
Pekerjaan: Dokter Gigi

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved