Opini

Normalisasi KDRT, Tutup Aib Suami atau Laporkan?

KDRT adalah bentuk penganiayaan, bentuk perbuatan yang tidak baik dan tidak sesuai dengan contoh Rasulullah SAW

Editor: Ilham Mulyawan
Dok BBC
Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) 


Oleh: Rahmawati, S.Pd
Ketua Majelis Ta'lim Mar'atul Muthmainna

TRIBUN-SULBAR.COM - Beberapa waktu yang lalu Ustadzah Oki Setianan Dewi viral jadi pusat perbincangan di Twitter karena potongan video dakwahnya yang membahas tentang menutup aib suami, yang disampaikan dua atau tiga tahun yang lalu, terblow up ke publik dan kontennya dinilai sebagai normalisasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Dalam video yang beredar, Oki menceritakan sebuah kisah pasangan suami isteri di Jeddah yang sedang bertengkar, kemudian suami tersebut memukul isterinya hingga menangis.

Tak lama kemudian orang tua dari isterinya datang.

Masih dalam kondisi mata sembab dan menangis, ibu dari wanita itu bertanya, tetapi isteri tersebut menutupi kelakuan suaminya didepan ibunya.

“Padahal bisa loh isterinya ngadu sama orang tuanya ,’Aku baru dipukul, ada KDRT kekerasan dalam rumah tangga, suamiku itu,” kata Oki dalam video yang ramai dibicarakan itu.

“Kan kalau perempuan kadang-kadang suka lebai ceritanya enggak sesuai kenyataan. Orang kalau lagi marah, lagi sakit hati ceritanya suka dilebih-lebihkan,” imbuhnya.

Terharu dengan sikap isterinya yang menutupi aibnya, suami tersebut kemudian diceritakan oleh Oki semakin menyayanyi isterinya.

“Suaminya luluh hatinya, menyimpan aibku sendiri, luar biasa. Makin saying dan cintalah suami tersebut, “kata Oki. (Kompas.com, 4 februari 2022).

Setelah video ceramahnya viral, sosok ustadzah Oki meminta maaf dan mengatakan jika dia juga menolak KDRT.

Isi video ceramah tersebut tetap menuai kontra dari beberapa kalangan.

Ketua Tanfidziyah PBNU Alissa wahid menyayangkan isi ceramah artis sekaligus penceramah Oki Setiana Dewi tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Menurut Alissa KDRT tidak boleh dianggap sebagai aib yang harus ditutupi.

Pasalnya KDRT adalah bentuk kekerasan yang harus diselesaikan.

“KDRT itu tidak boleh dianggap sebagai aib yang harus ditutupi. Itu sebuah kekerasan dan kekerasan itu harus diselesaikan,”kata Alissa dalam tayangan video kanal you Tube Kompas TV,Sabtu (05/02/2020).

Ceramah Oki tersebut juga menuai sorotan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ketua MUI Bidang Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan, Utang Ranuwijaya menuturkan bahwa tindakan KDRT tidak pernah dibenarkan dalam hukum agama Islam.

“KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga dalam bentuk apapun itu tidak dibenarkan oleh ajaran Islam,” kata Utang Ranuwijaya.

Ia juga menegaskan bahwa KDRT adalah bentuk penganiayaan, bentuk perbuatan yang tidak baik dan tidak sesuai dengan contoh Rasulullah SAW. (tribunnews.com, 05/02/2022).

Penumpang Gelap Isu KDRT

Mengkritisi respon dari kaum feminis terkait isu ceramah Oki yang sedang ramai diperbicangkan oleh khalayak, opininya seolah –olah ada normalisasi KDRT dari mulut seorang daiyah yang kemudian ini bisa menjadi pintu masuk untuk menggiring adanya pencitra-burukan terhadap ajaran Islam bahkan sampai menyerang figurnya.

Harus dilihat bahwa kasus-kasus KDRT ini ternyata memiliki banyak sekali factor-faktor makronya.

Inilah yang harus diwaspadai yaitu adanya penumpang gelap dalam isu ini.

Mereka mengeksploitasi model-model kasus seperti ini untuk kepentingan mereka.

Hal tersebut terjadi secara lazim serta sudah menjadi modus operandi.

Contohnya di Aceh, Perda Syariah diserang habis-habisan.

Selain tidak paham utuh syariat, muslim disistem sekuler juga menghadapi pertarungan pihak yang ingin terus memojokkan syariat melalui isu HAM dan Kesetaraan dan pihak yang berusaha menjalankan syariat.

Sementara itu regulasi yang ada lebih berpihak pada arus liberal maka posisi seharusnya bukan defensive apologetic dengan hanya meminta maaf dan mengatakan bahwa KDRT bukanlah aib keluarga yang memang pantas dilaporkan.

Namun semestinya kaum muslimin memahami mengapa kasus KDRT semakin banyak dan menyerang balik pihak kaum liberal.

Seperti yang diketahui kondisi saat ini memang terpisah antara agama dan kehidupan.

Sekulerisme jadi asas kehidupan saat ini. Kondisi ini menjadikan kaum muslimin tak memahami secara utuh Syariat Islam.

Kaum muslimin makin jauh dari syariat Islam termasuk aturan rumah tangga dan suami isteri.

Pun secara fakta kasus KDRT tak bisa dipandang sebelah mata.

KemenPPPA catat kekerasan seksual tertinggi sebanyak 7.191 kasus.

Konten ceramah tersebut bisa jadi bahan gorengan yang renyah untuk menyudutkan syariah islam terutama kau liberal.

Menstigma, jika Islam tak melindungi kaum perempuan.

Dan menjadi kesempatan mereka untuk makin menggembar gemborkan HAM dan Kesetaraan. Kaum liberal menganggap kekerasan perempuan dikarenakan tak ada HAM dan kesetaraan.

Kehidupan Rumah Tangga yang Sebenarnya

Banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan baik domestik maupun publik berawal dari pemisahan agama dari kehidupan.

Sejak dunia dipimpin oleh sekuler kapitalis, tak ada ketenangan, keamanan dan kesejahteraan bagi kaum perempuan.

Bagaimana Islam memandang kehidupan termasuk kehidupan rumah tangga suami isteri.

Islam memiliki cara pandang khas dalam urusan rumah tangga.

Hubungan suami isteri adalah hubungan persahabatan.

Hubungan ini sarat dengan kasih sayang, ketenangan, persahabatan dan ketentraman. Bukan hubungan majikan dan pembantu, boss dan karyawan.

Untuk mewujudkan hal ini, Allah SWT menjelaskan bahwa isteri memiliki hak-hak dalam konteks suami isteri terhadap suaminya.

Suami memiliki hak-hak dalam konteks suami isteri terhadap isterinya.

Allah SAW berfirman dalam quran surah AL-Baqarah ayat 228 yang artinya:
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya, menurut cara yang ma’ruf."
Alhasil tercapainya interaksi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.

"Namun seandainya jika isteri mengabaikan perannya (nusyuz) maka jadi kewajiban suami untuk menasehatinya. Apabila sang isteri tidak bisa dinasehati baru diberi sanksi. Allah SWT berfirman:

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka ditempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan unutuk menyusahkannya, sesungguhnya Allah maha tinggi lagi maha besar." (TQS. Annisa:34.)

Pengertian pukulan dalam ayat tersebut adalah pukulan ringan, tak membahayakan dan menyakitkan.

Namun yang harus diingat adalah suami harus diberi wewenang untuk member sanksi pada isteri yang melakukan perbuatan dosa.

Apabila isteri taat, suami tak boleh mencari-cari kesalahannya, tak boleh mengganggunya dan menyusahkannya.

Pun jika isteri mendapati ketidaksempurnaan suami, bukan alasan kebolehan untuk mengumbar aib pada orang lain apalagi dimedia sosial.

Menjaga kehormatan dirinya dan suami adalah salah satu ciri perempuan salehah.

Dalam Islam tak ada KDRT karena baik suami atau isteri memahami perannya masing-masing sebagaimana perintah syariat.

Andaipun ada kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menyebabkan salah satu diantara keduanya terluka bahkan hilang nyawanya.

Islam telah menetapkan sanksi untuk kasus seperti ini.

Sanksi ini sebagai sawajir (pencegahan) dan jawabir(penebus dosa). Wallau’alam. (**)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved