Opini

Normalisasi KDRT, Tutup Aib Suami atau Laporkan?

KDRT adalah bentuk penganiayaan, bentuk perbuatan yang tidak baik dan tidak sesuai dengan contoh Rasulullah SAW

Editor: Ilham Mulyawan
Dok BBC
Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) 

Hubungan ini sarat dengan kasih sayang, ketenangan, persahabatan dan ketentraman. Bukan hubungan majikan dan pembantu, boss dan karyawan.

Untuk mewujudkan hal ini, Allah SWT menjelaskan bahwa isteri memiliki hak-hak dalam konteks suami isteri terhadap suaminya.

Suami memiliki hak-hak dalam konteks suami isteri terhadap isterinya.

Allah SAW berfirman dalam quran surah AL-Baqarah ayat 228 yang artinya:
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya, menurut cara yang ma’ruf."
Alhasil tercapainya interaksi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.

"Namun seandainya jika isteri mengabaikan perannya (nusyuz) maka jadi kewajiban suami untuk menasehatinya. Apabila sang isteri tidak bisa dinasehati baru diberi sanksi. Allah SWT berfirman:

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka ditempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan unutuk menyusahkannya, sesungguhnya Allah maha tinggi lagi maha besar." (TQS. Annisa:34.)

Pengertian pukulan dalam ayat tersebut adalah pukulan ringan, tak membahayakan dan menyakitkan.

Namun yang harus diingat adalah suami harus diberi wewenang untuk member sanksi pada isteri yang melakukan perbuatan dosa.

Apabila isteri taat, suami tak boleh mencari-cari kesalahannya, tak boleh mengganggunya dan menyusahkannya.

Pun jika isteri mendapati ketidaksempurnaan suami, bukan alasan kebolehan untuk mengumbar aib pada orang lain apalagi dimedia sosial.

Menjaga kehormatan dirinya dan suami adalah salah satu ciri perempuan salehah.

Dalam Islam tak ada KDRT karena baik suami atau isteri memahami perannya masing-masing sebagaimana perintah syariat.

Andaipun ada kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menyebabkan salah satu diantara keduanya terluka bahkan hilang nyawanya.

Islam telah menetapkan sanksi untuk kasus seperti ini.

Sanksi ini sebagai sawajir (pencegahan) dan jawabir(penebus dosa). Wallau’alam. (**)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved