Breaking News:

Gempa Majene

Pengungsi Aholeang Malunda: Tidak Ada Perubahan, Kami Makin Susah

Kebun yang selama ini menjadi sumber panghasilan mereka hilang akibat gempa bumi disusul tanah longsor.

Editor: Nurhadi Hasbi
Tribun-Sulbar.com/Masdin
Suasana pengungsian warga Dusun Aholeang dan Rui di Dusun Alle-Alle, Desa Mekatta, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulbar, Minggu (9/1/2022) 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAJENE - Jelang setahun di lokasi pengungsian pascagempa bumi 15 Januari 2021, warga Dusun Rui dan Aholeang, Desa Mekkatta, Kecamatan Malunda, Majene, tak merasakan perubahan.

Salah seorang warga Aholeang, Habu (44) mengaku, malah makin susah.

Mulai dari kebutuhan air bersih, listrik hingga tempat tinggal belum layak.

Baca juga: CARA Warga Aholeang Penuhi Kebutuhan di Pengungsian, Pinjam dan Gerap Tanah Orang Lain

Baca juga: Warga Aholeang-Rui Minta Pemerintah Segera Bangunkan Rumah, Kadus: Kami Sudah Tak Nyaman di Tenda

Apalagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka tak dapat berbuat banyak.

Kebun yang selama ini menjadi sumber panghasilan mereka hilang akibat gempa bumi disusul tanah longsor.

Tanah berisi cokelat, kemirin, durian dan tanaman lainnya hilang bersama rumah mereka.

"Tidak ada perubahan, yang ada kami malah makin susah," ujar Habu saat ditemui di rumah sementarnya, Minggu (9/1/2022).

Habu mengungkapkan, makin hari makin sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarga.

"Tanaman cokelat, kemiri, langsat dan durian hilang tertimbun, ada sekitar dua hektar," pungkasnya.

Pria empat enak tersebut takut untuk kembali menggarap tanahnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved