Breaking News:

Obat Molnupiravir untuk Penderita Covid-19 Gejala Ringan, Perlindungan Capai 50 Persen

Menkes Budi Gunadi Sadikin menyatakan obat molnupiravir untuk pasien Covid 19 akan tiba akhir Desember.

Penulis: Al Fandy Kurniawan | Editor: Hasrul Rusdi
kompas.com
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi memberi sambutan saat menerima bantuan 500 ton oksigen dari Indonesia Morowali Industrial Park di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (6/7/2021). 

TRIBUN-SULBAR.COM - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan jika dari hasil penelitian, obat molnupiravir mampu memberikan perlindungan 50 persen untuk pasien Covid 19.

Akan tetapi, perlindungan tersebut menurun menjadi 30-40 persen.

Obat alternatif Covid-19 tersebut akan tiba di Indonesia pada akhir Desember.

Saat ini obat molnupiravir tersebut sedang berproses di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mendapatkan izin penggunaan darurat.

"Sehingga diharapkan bulan Januari kita siap pakai, jadi datang di akhir tahun, kita dapat izin BPOM. Awal Januari bisa kita pakai," kata Budi Gunadi Sadikin.

Obat molnupiravir. Ini adalah obat oral antivirus
ILUSTRASI Obat molnupiravir. Ini adalah obat oral antivirus yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Merck untuk menangani Covid-19. Uji klinis sementara menunjukkan, obat ini mampu menekan risiko masuk ke rumah sakit atau kematian hingga 50 persen.

Baca juga: Atas COVID-19, Pemerintah Beli 1 Juta Pil Molnupiravir Buatan Merck, Efektif Tangkal Corona?

Baca juga: Wiku Adisasmito: Obat Molnupiravir di Indonesia Harus Lolos BPOM

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan obat molnupiravir buatan Merck, Amerika Serikat itu dianggap mampu memberikan perlindungan kepada penderita Covid 19 yang ada di di rumah sakit sebesar 50 persen.

Oleh sebab itu, Menkes Budi Gunadi berencana untuk memberikan obat tersebut kepada penderita Covid 19 dengan gejala ringan.

Hal ini dikarenakan penderita Covid 19 tersebut agar tidak bertambah parah gejalanya.

Sehingga tak perlu untuk dilakukan perawatan di rumah sakit.

"Obat ini diberikan ke orang yang saturasinya masih di atas 95 persen, tujuannya mencegah 50 persen dia masuk rumah sakit," ucapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved