Breaking News:

Kurikulum Prototipe

Kurikulum Prototipe Diterapkan 2022, Ketua Dewan Pendidikan Mamuju: Kita Setuju Konsep Ini

"Makanya saya setuju dengan konsep ini, karena kurikulum prototipe melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya," ungkap Hajrul.

Penulis: Habluddin Hambali | Editor: Hasrul Rusdi
Ist/Tribun-Sulbar.com
Ketua Dewan Pendidikan Mamuju, Hajrul Malik. 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia akan menerapkan kurikulum prototipe pada tahun 2022 mendatang.

Bagi siswa SMA yang memilih menggunakan kurikulum prototipe, maka siswa tak lagi dibagi dalam jurusan IPA, IPS maupun Bahasa.

"Jadi ini opsi untuk siswa atau sekolah apabila mengikuti pengembangan bakat minta mereka sesuai yang mudah dijadikan skill," kata Ketua Dewan Pendidikan Mamuju, Hajrul Malik, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (25/12/2021).

Sehingga, pihaknya sangat setuju jika kurikulum prototipe ini betul akan diterapkan.

Baca juga: Prof. Ir. Muhammad Arsyad, Putra Majene Sulbar Jadi Guru Besar Termuda Fakultas Pertanian Unhas

Kanwil Kemenkumham Sulawesi Barat (Sulbar) gencar laksanakan Penyuluhan Hukum Keliling. Kali ini tim Penyuluh Hukum sambangi dua sekolah di Mamuju yaitu SMK Negeri 1 Mamuju dan SMA Negeri 1 Mamuju, Kamis (2/12/21).
Kanwil Kemenkumham Sulawesi Barat (Sulbar) gencar laksanakan Penyuluhan Hukum Keliling. Kali ini tim Penyuluh Hukum sambangi dua sekolah di Mamuju yaitu SMK Negeri 1 Mamuju dan SMA Negeri 1 Mamuju, Kamis (2/12/21). (Ist/Tribun-Sulbar.com)

Sebab, situasi memang sudah berubah dibutuhkan berpikir secara holistik.

"Makanya saya setuju dengan konsep ini, karena kurikulum prototipe melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya," ungkap Hajrul.

Dia membeberkan ada tiga kurikulum sebelumnya yang diterapkan di dunia pendidikan.

Pertama, orientasi holistik yakni kurikulum dirancang untuk mengembangkan murid secara holistik, mencakup kecakapan akademis dan non-akademis, kompetensi kognitif, sosial, emosional, dan spiritual.

"Kedua berbasis kompetensi, bukan konten artinya kurikulum dirancang berdasarkan kompetensi yang ingin dikembangkan, bukan berdasarkan konten atau materi tertentu," bebernya.

Terakhir, kontekstualisasi dan personalisasi yakni kurikulum dirancang sesuai konteks (budaya, misi sekolah, lingkungan lokal) dan kebutuhan peserta didik.

Dengan demikian, kurikulum prototipe ini akan menjadi jawaban terkait persiapan Indonesia menuju persaingan global.

"Karena itu anak-anak memiliki kesempatan. Jadi saat ini memang skil holistik itu dibangun yang bisa melahirkan figur-figur dibutuhkan bangsa," tandasnya.(*)

Laporan Wartawan TRIBUN-SULBAR.COM, Habluddin

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved