PRAKIRAWAN BMKG Majene: Selain La Nina Fenomena MGO Juga Harus Diwaspadai

Kondisi tersebut memengaruhi sirkulasi udara global yang mengakibatkan udara lembab mengalir lebih kuat dari Samudra Pasifik ke arah Indonesia.

Penulis: Habluddin Hambali | Editor: Ilham Mulyawan
Tribun-Sulbar.com
Prakirawan Cuaca BMKG Majene Arman saat mengisi diskusi Tribun-Sulbar.com melalui virtual. 

Laporan wartawan TRIBUN-SULBAR.COM, Habluddin

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena La Nina akan terjadi hingga awal 2022 mendatang.

La Nina merupakan fenomena mendinginnya Suhu Muka Laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur hingga melewati batas normalnya.

Kondisi tersebut memengaruhi sirkulasi udara global yang mengakibatkan udara lembab mengalir lebih kuat dari Samudra Pasifik ke arah Indonesia.

Akibatnya, di wilayah Indonesia banyak terbentuk awan dan kondisi ini diprediksi bisa meningkatkan curah hujan sebagian besar wilayah tanah air.

Buktinya, di wilayah Sulawesi Barat saat ini sering terjadi curah hujan tinggi disertai angin kencang.

Hal ini membuat banjir dimana-mana, ditambah angin kencang mampu merobohkan beberap alos di Pasar Salutumbang, Majene beberapa waktu lalu.

Namun menurut Prakirawan Cuaca BMKG Majene, Arman, selain fenomena La Nina perlu juga diqaspadai fenomena MGO (Madden Julian Oscillation).

"Biasa disebut fenomena regional," kata Arman saat mengisi diskusi Tribun-Sulbar.com melalui virtual, Kamis (9/12/2021).

Dia menyebutkan, MGO merupakan fenomena gelombang amosfer yang mengindikasikan pergerakan sistem konektivitas udara berskala besar sehingga berkontribusi pada pembentukan awan hujan.

Hal itu akan akibatkan hujan intensitas tinggi disertai petir dan angin kencang di sebagian wilayah Indonesia termasuk Sulawesi Barat.

"MGO ini dia aktifnya setiap 30 hingga 60 hari. Dia munculnya selalu begitu," ungkap Arman.

Sementara, potensi kilat atau petir juga terjadi awan-awan gumpalan di langit.

Tetapi, tidak semua awan bisa menghasilkan petir.

"Jadi terjadi petir jika awan bertemu embun, kalau sudah matang awannya bisa mendatangkan angin puting beliung," ujarnya.

Namun, musim hujan terjadi saat ini tidak terlalu berpotensi terjadi petir atau kilat.

Akan tetapi, tetap ada namun terjadinya tidak signifikan di Sulawesi Barat.

"Secara normal curah hujan sering terjadi di Kabupaten Mamasa karena berada di daerah pegunungan menyusul lima kabupaten lainnya," tandasnya.(*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved