OPINI

Pasar Digital Indonesia Jangan Dikuasai Produk Impor, Generasi Milenial Harus Segera Turun Tangan

Namun, ada beberapa catatan penting yang harus dibenahi bila ingin memperkuat daya saing dalam menghadapi pesatnya perkembangan ekonomi digital.

Editor: Ilham Mulyawan
Dokumentasi La NYalla untuk Tribun-Sulbar
Ketua DPD RI, La Nyalla Mahmud Mattalitti saat memberi sambutan 

Oleh
La Nyalla Mahmud Mattalitti
Ketua DPD RI

TRIBUN-SULBAR.COM - Perkembangan teknologi, dan transformasi ke arah digital tak bisa terhindarkan lagi.

Apalagi di masa pandemi, semua manfaat dari penggunaan teknologi ini memang terjadi untuk mengimbangi kebutuhan manusia.

Teknologi digital kini digunakan di setiap aspek kehidupan manusia dalam kegiatan sehari-hari agar lebih efektif dan efisien.

Sekaitan dengan itu, generasi milenial sudah seyogyanya masuk dan menguasai pasar ekonomi digital, karena memiliki potensi sangat besar.

Sehingga Indonesia tidak hanya menjadikan sarana teknologi dan digital sebagai sarana hiburan belaka,

Tetapi bisa menjadikannya sarana untuk menciptakan produktivitas dan nilai tambah bagi perekonomian.

Semuanya harus bersiap, tidak ada kata terlambat.

Semua anak muda harus bersiap.

Jangan sampai besarnya pasar ekonomi digital itu justru dinikmati oleh perusahaan-perusahaan besar dari luar negeri.

Dari tahun ke tahun, nilai transaksi belanja online terus meningkat.

Tahun 2020 lalu mencapai Rp266 triliun.

Satu keprihatinan dalam diri saya, karena masih maraknya produk impor di berbagai marketplace Indonesia.

Sebanyak 90 persen, atau bahkan 95 persen, penjual di marketplace adalah orang lokal.

Tetapi produk yang dijual justru kebalikannya, sekitar 90 persen adalah impor.

Ini tentu harus menjadi perhatian bersama, karena begitu besarnya nilai transaksi belanja online kita, yang mencapai lebih dari Rp266 triliun itu, yang artinya mayoritas uang rakyat dibelanjakan untuk produk impor.

Penjual di marketplace hanya ambil marjin.

Nilai tambah utama tentu ada pada produk atau pelaku impor di luar negeri.

Inilah salah satu PR kita untuk membawa anak-anak muda masuk dalam ekosistem belanja digital.

Tentu saja ketika berbicara ekonomi digital bukan hanya soal belanja online.

Di dalamnya ada berbagai segmen bisnis, ada aplikasi, ada software, ada teknologi bidang kesehatan, dan sebagainya.

Belum lagi jika kita berbicara tentang perkembangan teknologi gelombang baru dunia digital seperti teknologi 5G, IoT atau internet of things, blockchain, artificial intelligence dan cloud computing.

Semuanya itu jika kita tangkap dengan baik peluangnya, tentu akan sangat memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi bangsa kita.

Banyak riset menunjukkan, ekonomi digital Indonesia akan tumbuh delapan kali lipat pada tahun 2030.

Nilainya diprediksi mencapai Rp4.500-an triliun.

Tentu ini menjadikannnya sebagai pasar prospektif dari ekonomi digital.

Namun, ada beberapa catatan penting yang harus dibenahi bila ingin memperkuat daya saing dalam menghadapi pesatnya perkembangan ekonomi digital.

Pertama, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM), karena kesiapan SDM adalah pilar dasar dalam ekosistem inovasi digital.

Digital hanyalah alat.

Skemanya, inovasinya, terobosannya, peruntukannya, berdasarkan perencanaan dari manusia.

Sehingga SDM kaum muda harus disiapkan sejak saat ini, tidak bisa ditunda-tunda lagi.

Kedua, kesiapan infrastruktur.

Saat ini, fasilitas infrastruktur telekomunikasi belum merata, terutama di kawasan timur Indonesia. Akibatnya, terjadi kesenjangan digital.

Mayoritas pengguna internet di Indonesia hanya berpusat di Jawa, Sumatera dan Bali.

Ketiga, kesiapan regulasi.

Dunia digital adalah dunia yang begitu dinamis.

Hitungan perubahannya bukan tahun, tapi hari, bahkan jam.

Maka, pemerintah harus menyiapkan regulasi yang tidak kuno, yang mengakomodasi perkembangan zaman, namun tetap dalam koridor aturan yang baik dan memihak kepada kepentingan bangsa. (**)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved