Opini

Ekuilibrium Pilkades Serentak

Selamat memilih siapapun yang hendak pemilih pilih. Bagaimana pun pilkades selalu menjadi diskursus menarik dalam perbincangan mengenai keterpilihan.

Editor: Nurhadi Hasbi
Dok Adi Arwan Alimin
Adi Arwan Alimin 

Oleh: Adi Arwan Alimin

PADA pemilihan kepala desa beberapa tahun lalu, saya memiliki beberapa sahabat atau teman sejak SMA yang maju sebagai calon kepala desa.

Uniknya teman saya ini mendaftar dan memenuhi syarat sebagai calon kades di desa yang sama. Bedanya hanya berlainan dusun.

Sebenarnya ingin datang melihat proses pemilihan di Hari H pilkades itu. Namun atas beberapa pertimbangan saya memilih memantaunya dari jauh.

Saya memilih tak datang sebab ingin menihilkan anggapan bahwa diantara mereka ada yang penulis dukung.

Saya jujur tidak sanggup ke desa mereka, kuatir tak mampu menolak suguhan kopi atau kudapan.

Atau tidak ingin mengecewakan diantara mereka yang sejak belasan tahun saling akrab.

Apa yang menarik dari sebuah pilkades? Apalagi digelar serentak sebagaimana pemilihan kepala daerah setingkat di atasnya.

Desa sebagai institusi dalam berbangsa dan bernegara sejak dahulu memiliki nilai kesakralan yang mesti terus dijaga.

Di masa lalu amat tidak mudah menjadi seorang kepala desa, kepala kampung apalagi seorang kepala suku di lingkungannya.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved