Breaking News:

Kisah Nakes

Kisah Nakes Polman, Relah Lewati Jalan Rusak & Seberangi Sungai Pakai Rakit Demi Sukseskan Vaksinasi

Tiba di puskesmas tengah malam, pagi mereka lanjut menjalankan tugas ke daerah pelosok lainnya di Kecamatan Tutar.

Editor: Nurhadi Hasbi
ist/Tribun-Sulbar.com
Nakes Polman, dr Asri Wahid 

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Kisah tenaga kesehatan (nakes) Polewali Mandar, berjuang melewati jalan rusak untuk menyukseskan program vaksinasi Covid-19.

Tak hanya melewati jalanan rusak yang berlumpur, para nakes bersama aparat kepolisian harus menyeberangi derasnya arus sungai menggunakan rakit bambu.

Mereka relah melawan bahaya masuk di pedalam Kecamatan Tutar, Kabupaten Polman, demi tercapaian sasaran target vaksinasi Covid-19.

Agar tercipta kekebalan kelompok masyarakat, termasuk masyarakat di daerah pelosok.

dr Asri Wahid salah seorang nakes yang ikut dalam rombongan tersebut mengaku merasakan banyak suka duka, menjalankan tugas demi suksesnya program vaksinasi Covid-19.

"Tapi kita mendapatkan pengalaman luar biasa, bersama petugas yang luar biasa, polisi luar biasa, intinya tim yang luar biasa,

saya hanya mau bilang daerah Tutar pedalaman, bahkan kita harus tangah malam, pukul 00.00 WITA, baru pulang," tutur dr Asri Wahid dengan penuh semangat dalam video yang diterima Tribun-Sulbar.com, Rabu (3/10/2021).

Bertugas menyukseskan program vaksinasi, dr Asri Wahid mengaku seperti tak mengenal lelah.

Tiba di puskesmas tengah malam, pagi mereka lanjut menjalankan tugas ke daerah pelosok lainnya di Kecamatan Tutar.

Mobil operasional tenaga kesehatan melewati jalan rusak
Mobil operasional tenaga kesehatan melewati jalan rusak masuk ke pedalaman Kecamatan Tutar, Kabupaten Polman,

Ia mengaku, selain akses, kendala lain yang dihadapi untuk mensukseskan vaksinasi karena masyarakat biasanya datang sore hari di lokasi vaksinasi, sementara mereka sudah stand by dari pagi.

"Karena kalau pagi, masyarakat berangkat ke kebun kerja dan kembali pada sore hari, sehingga mau tidak mau kita harus menunggu," ucapnya.

Apalagi, lanjutnya, daerah Tutar adalah daerah pedalaman, perkampungan warga berjauhan, sehingga harus benar-benar jemput bola.

"Istilah kita Pipos, pindah-pindah posisi, bahkan kalau musim hujan kita seperti bertaruh nyawa, karena jika sungai meluap kita harus pake rakit untuk pindah dari posisi satu ke posisi lain, semua demi suksesnya vaksinasi," pungkasnya.(nur)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved