Siswa di Polman Bertarung Nyawa Sebrangi Sungai Menuju Sekolah, Ini Kata Akademisi Unsulbar

Siswa di desa itu setiap hari berjuang bertarung nyawa menyebrangi sungai menggunakan rakit demi menuju sekolah.

Penulis: Hasan Basri | Editor: Nurhadi Hasbi
Tribun-Sulbar.com/Hasan Basri
Sejumlah siswa dan guru Kecamatan Alu, Polewali Mandar, menuju sekolah menggunakan rakit bambu. 

Supaya bukan cuma aksesibilitas masyarakat yang terselesaikan tapi juga pengembangan ekonomi.

Disisi lain, Muhammad apresiasi untuk pelajar,pengajar dan semua para pencari nafkah yang tetap optimis dengan citanya padahal nyawa taruhannya.

Seperti dialami Siswi SMK Negeri 1 Alu, Alvisari. Setiap hari dari kampungnya menuju tempat sekolahnya di Desa Mombi, Alu menyebrangi sungai.

Mereka menyebrang dengan menggunakan jasa sewa rakit. Sekali menyebranh, Alvi mengeluarkan uang Rp 2 ribu.

"Rada rada takut sih kak, cuma harus dilewati karena mauki belajar kak, " ucap Alvisari saat ditemui wartawan di lokasi penyebrangan.

Namun yang menjadi kendala bagi mereka ketika musim hujan, karena air sungai biasa meluap dan tidak ada rakit berani menyebrang.

"Biasa kembali pulang ke rumah, karena pihak sekolah sudah tahu kondisi kita, " ucap gadis berjilbab ini.

Harapan satu satunya mereka adalah adanya perhatian pemerintah membuat jembatan penyebrangan.

"Ada jalan lain, tapi terlalu jauh berkeliling, " sebutnya.

Senada disampaikan Nurlinda. Nurlinda adalah siswi SMA Negeri 1 Alu setiap hari harus menyebrangi sungai menuju sekolahnya. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved