Breaking News:

Siswa di Polman Bertarung Nyawa Sebrangi Sungai Menuju Sekolah, Ini Kata Akademisi Unsulbar

Siswa di desa itu setiap hari berjuang bertarung nyawa menyebrangi sungai menggunakan rakit demi menuju sekolah.

Penulis: Hasan Basri | Editor: Nurhadi Hasbi
Tribun-Sulbar.com/Hasan Basri
Sejumlah siswa dan guru Kecamatan Alu, Polewali Mandar, menuju sekolah menggunakan rakit bambu. 

TRIBUN - SULBAR. COM, POLMAN - Akademis Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) Muhammad menanggapi potret dunia pendidikan di Kabupaten Polewali Mandar (Polman).

Sebab, masih ada siswa di daerah tersebut yang belum bisa menikmati infrastruktur layak untuk pergi menuntut ilmu.

Seperti dialami ratusan siswa di Desa Saragian, Kecamatan Alu.

Siswa di desa itu setiap hari berjuang bertarung nyawa menyebrangi sungai menggunakan rakit demi menuju sekolah.

Tidak ada jembatan penghubung yang bisa mereka lintasi dari kampung mereka menuju ke sekolah.

"Ini harus menjadi prioritas untuk diselesaikan oleh pemerintah," kata Dosen Politik dan Pemerintah Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Muhammad.

Pemerintah harus serius memperhatikan kondisi dialami para siswa tersebut untuk membangun jembatan penyeberangan.

Karena tidak hanya mengganggu proses belajar, tetapi mengancam nyawa para siswa yang tengah berjuang menuntut ilmu.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar mengadakan mobil untuk Bupati dengan harga yang cukup fantastik senilai hampir Rp 2,5 miliar.

Dana sebesar itu semestinya dipergunakan untuk kepentingan masyarakat, seperti pembangunan jembatan penyeberangan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved