Reaktif, Satu Peserta Sidang Sinode Majelis Sinode Gereja Toraja Mamasa Dipulangkan
Kepala Puskesmas Kecamatan Tabulahan, Iriana mengatakan, ada dua posko disediakan pada kegiatan ini.
Penulis: Semuel Mesakaraeng | Editor: Hasrul Rusdi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Tracing-peserta-sidang-Majelis-Sinode-Gereja-Toraja-Mamasa.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMASA - Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Toraja Mamasa (BPMS-GTM), Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), gelar Sidang Majelis Sinode Am ke-XX.
Pelaksanaan sidang majelis sinode ini berlangsung di Kelurahan Lakahang, Kecamatan Tabulahan, Senin (20/9/2021).
Dijadwalkan kegiatan ini berlangsung selama enam hari, yakni hingga Sabtu (25/9/2021).
Kegiatan ini diikuti tiga perwakilan dari masing-masing Badan Pekerja Majelis Klasis.
Diharapkan, kegiatan ini diikuti 246 peserta dari 67 klasis, berikut tambahan sejumlah pendeta dari klasik.
Pelaksanaan kegiatan ini berlangsung dengan protokol kesehatan ketat.
Setiap peserta wajib memeriksa kesehatan sebelum memasuki ruang sidang.
Di lokasi kegiatan, disediakan posko kesehatan.
Ada sebanyak 21 tenaga kesehatan ditugaskan di posko kesehatan.
Kepala Puskesmas Kecamatan Tabulahan, Iriana mengatakan, ada dua posko disediakan pada kegiatan ini.
Satu posko di lokasi kegiatan dan satu posko di Puskesmas Tabulahan.
Dia menyebut, pada scraning ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa menyediakan 150 test rapid antigen.
Baca juga: Kasus Cristina dan Nuraliyah, Ombudsman Sulbar: Mestinya Surat LAHP Kami Dibalas Pemprov
Baca juga: Air Mata Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar di Rapat Paripurna Istimewa DPRD
Rapid antigen ini diperuntukkan bagi peserta yang berasal dari Kabupaten Mamasa.
Sementara peserta luar Kabupaten Mamasa, diwajibkan membawa hasil rapid antigen.
Stok test rapid antigen ini menurut Iriana, merupakan bantuan dari BPJS Kesehatan Kabupaten Mamasa.
Dari hasil scraning ujar Iriana, satu peserta dinyatakan reaktif.
Bagi peserta reaktif, disarankan isolasi mandiri atau pulang ke tempat asal.
"Yang reaktif kita sediakan ruang isolasi mandiri di Puskesmas. Kalau tidak bersedia diisolasi maka dipulangkan ke tempat asal," Jelas Iriana.
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com/Semuel Mesakaraeng