HUT Kemerdekaan RI
Mengenal Latief Hadiningrat, Suhud Sastro dan SK Trimurti, 3 Pengibar Bendera Pusaka Pertama
Tugas menaikkan bendera dan mengibarkan mereka lakukan setelah Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno membacakan teks proklamasi di Jakarta
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Momen-pengibaran-Bendera-Merah-Putih-usai-pembacaan-Teks-Proklamasi.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM - Rakyat Indonesia memperingati HUT kemerdekaan RI ke-76 pada Selasa (17/8/2021) hari ini.
Peringatan digelar serentak di seluruh Indonesia.
Pengibaran bendera merah putih pertama kali dilakukan pada 17 Agustus 1945.
Sejak saat itulah HUT kemerdekaan selalu diperingati 17 Agustus tiap tahun.
Di masa kini, pengibaran bendera dilakukan Pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka).
Mereka merupakan putra dan putri terpilih dari Sekolah Menengah Atas (SMA).
Namun tahukah Anda, saat pengiibaran bendera tahun1945 hanya dilakukan tiga orang saja.
Mereka adalah Latief Hendraningrat, Suhud Sastro Kusomo dan SK Trimurti.
Tugas menaikkan bendera dan mengibarkan mereka lakukan setelah Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno membacakan teks proklamasi di di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.
Melansir dari berbagai sumber, inilah sosok ketiga orang tersebut.
Raden Mas Abdul Latief Hendraningrat merupakan perwira tertinggi Pembela Tanah Air (PETA) yang lahir di 15 Februari 1911 di Jakarta.
Sebelum menjadi Komandan Kompi (Sudanco), Latief sudah aktif di Pusat Latihan Pemuda (Seinen Kunrenshoo) yang juga bentukan Jepang.
Latief Hendraningrat termasuk golongan muda yang meyakinkan Soekarno-Hatta untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia dalam Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945.
Melihat tentara Jepang sudah beraiap dengan senjata, Latief yang saat itu berusia 34 tahun dipercaya untuk mengamankan lokasi sebelum pengibaran di mulai.
Setelah pembacaan proklamasi, Latief yang memakai seragam tentara Jepang diminta untuk mengibarkan bendera bersama Suhud Sastro Kusomo.
Setelah kemerdekaan, Latief melanjutkan sebagai tentara salah satunya komandan Komando Kota ketika Belanda menyerbu Yogyakarta (1948). Selain itu, ia juga termasuk yang merumuskan taktik Serangan Umum, 1 Maret 1949.
Latief Hendraningrat meninggal pada 14 Maret 1983 di Jakarta pada usia 72 tahun.
Suhud Sastro Kusumo merupakan anggota Barisan Pelopor bentukan Jepang yang lahir pada tahun 1920.
Tiga hari sebelum pembacaan teks proklamasi, tepatnya pada 14 Agustus 1945, Suhud diminta untuk menjaga keluarga Soekarno dari segala macam ancaman.
Namun pada tanggal 16 Agustus yang merupakan hari peristiwa Rengasdengklok, suhud tidak menaruh curiga pada Soekarni dan Chairul Saleh yang membawa Soekarno.
Pada malam harinya saat Soekarno sudah kembali, Suhud diminta untuk mempersiapkan pengibaran Sang Saka Merah Putih.
Suhud bertugas membentangkan bendera sementara Latief yang menarik kerek.
3. SK Trimurti
Surastri Karma (SK) Trimurti merupakan seorang guru sekolah dasar yang lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 11 Mei 1912.
Saat menjadi guru SD, SK Trimurti juga ikut berjuang melawan pemerintahan kolonial melalui tulisan-tulisan. Ia pernah dipenjara karena membuat leaflet berisi ujaran antikolonialisme.
Di dalam penjara SK Trimurti justru semakin mengasah tulisannya, alhasil ia semakin kritis dalam mengkritik pemerintah kolonial.
Usai keluar dari penjara SK Trimurti menikah dengan Sayuti Melik dan mendirikan Koran Pesat di Semarang, meski pernah dibredel Pemerintah Jepang.
Saat pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pertama kali oleh Soekarno, SK Trimurti termasuk petugas pengibar bendera bersama Latief dan Suhud. (*)