Breaking News:

Wapres Bebaju Adat Mandar

Wapres Akan Pakai Baju Adat Mandar, Budayawan: Jangan Terlalu Tinggi Ekspektasi

"Khususnya jaringan ulama. Saya yakin Pak Maaruf memiliki alasan tersendiri sehingga memilih pakaian adat Mandar di 17 Agustus nanti," tambahnya.

ist
Wapres Ma'ruf Amin saat menjadi pembicara dalam acara Istighotsah Nasional dan Refleksi kemerdekaan RI ke-76 secara virtual, Minggu (8/8/2021). 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) Maruf Amin dan istri akan menggunakan baju adat Mandar pada peringatan hari ulang tahun ke-76 RI.

Budayawan Mandar, Ridwan Alimuddin juga memberikan apresiasi rasa bangga atas keinginan Wapres bersama istri tersebut.

"Harus diapresiasi dengan rasa bangga. Pak wapres berasal dari Banten, antara Banten dengan Mandar memiliki ikatan sejarah," kata Ridwan, Rabu (11/8/2021).

Secara ikatan sejarah Banten dan Mandar memiliki ikatan dari segi perdagangan, pendidikan, kebudayaan dan politik di masa silam.

Model Baju Adat Mandar yang Akan Digunakan Wapres dan Istri
Model Baju Adat Mandar yang Akan Digunakan Wapres dan Istri (Ist/Tribun-Sulbar.com)

"Khususnya jaringan ulama. Saya yakin Pak Maaruf memiliki alasan tersendiri sehingga memilih pakaian adat Mandar di 17 Agustus nanti," tambahnya.

Begitupun, Wapres pasti memiliki referensi kemandaran, baik di jejaring saat ini maupun di masa silam.

"Meski demikian, kita juga jangan terlalu tinggi ekspektasi. Saya duga, yang akan terjadi nanti adalah munculnya pendapat tentang kostum yang dikenakan," ungkap Ridwan.

Mantan Ketua AJI Kota Mandar ini juga mengungkapkan bisa jadi ada beberapa penyesuaian, misal tambahan ornamen atau properti.

Baca juga: Wapres Akan Pakai Baju Adat Mandar, Andi Ruskati: Hari Ini Kita Serahkan Pakaian & Kelengkapannya

Baca juga: Aksi Peduli Lingkungan Pemuda Lombongan Majene Sambut HUT RI Ke-76: Merdeka dari Sampah

"Peringatan hari Kemerdekaan akan disaksikan orang banyak, jadi dari segi fashion, kostum yang dikenakan harus kelihatan menarik," tuturnya.

Seperti haknya, akan ada pendapat bahwa apa yang dikenakan adalah "songkok bone". Tak apa, sebab memang "songkok pamiring" itu Mandar adopsi dari Bugis atau Makassar.

Gubernur Sulbar visitasi peninggalan kolonial Belandar di Majene pada Fastival Kota Tua, Jumat (6/8/2021)
Gubernur Sulbar visitasi peninggalan kolonial Belandar di Majene pada Fastival Kota Tua, Jumat (6/8/2021) (TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR)

"Mudah-mudahan yang dikenakan nanti adalah sarung corak klasik Mandar, misal "sureq pangulu", harapnya.

Sedangkan, istrinya lebih cocok mengenakan baju "pasangang mamea" atau "pasangang mapute" dengan perhiasan "dali" di telinganya.

Begitupun sarung, bisa menggunakan motif klasik lain. Idealnya sarung betul-betul berbahan sutera tenun Mandar.

"Tapi meski bukan itu yang terjadi, seperti yang saya kemukakan sebelumnya, itu harus tetap diapresiasi dengan baik oleh masyarakat Mandar," tutupnya.(*)

Laporan Wartawan TRIBUN-SULBAR.COM, Habluddin

Penulis: Habluddin Hambali
Editor: Hasrul Rusdi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved