Perkuat Sistem Informasi Bencana, Zulfajri: Kenyataan Sulbar Rawan Gempa Harus Kita Terima

Peran masyarakat, perguruan tinggi juga harus dilibatkan oleh pemerintah dalam memberikan kajian akademik termasuk merumuskan konsep mitigasi bencana

Penulis: Misbah Sabaruddin | Editor: Hasrul Rusdi
Ist/Tribun-Sulbar.com
Wakil Rektor I Bidang Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Kerja Sama Universitas Sulawesi Barat (Sulbar), Dr Zulfajri Basri Hasanuddin bersama istrinya, Dewi Arni. 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAJENE - Enam bulan pascagempa bumi di Sulawesi Barat (Sulbar) harusnya mendorong pemerintah untuk memperkuat mitigasi bencana.

Salah satu mitigasi bencana yang penting dilakukan yakni memperkuat sistem informasi dan komunikasi bencana di Tanah Mandar ini.

Baca juga: Masih Dihantui Trauma, Warga di Mamuju Pilih Tidur di Teras Rumah Pascagempa Mamasa

Wakil Rektor I Bidang Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Kerja Sama, Universitas Sulawesi Barat, Dr Zulfajri Basri Hasanuddin mengatakan, Pemerintah Sulbar harus membangun konsep mitigasi bencana yang komprehensif (luas dan lengkap).

"Sulbar yang rawan gempa harus kita terima kenyataan itu. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana konsep komprehensif pemerintah mulai dari mempersiapkan kelembagaan untuk kebencanaan," ujar Zulfajri, Sabtu (24/7/2021) malam.

Selain itu, pemerintah juga harus menyiapkan kebijakan dan regulasi terkait antisipasi dan penanganan gempa dan pasca gempa.

Termasuk infrastruktur sarana dan prasarana tahan gempa.

Seperti perumahan publik, jalan, jembatan dan jaringan perpipaan bawah tanah (khususnya yang melewati jalur patahan gempa).

Kawasan Sulbar memiliki jalur-jalur tertentu dilewati sesar aktif yang berpotensi gempa.

Baca juga: Warga Keluhkan Sapi Berkeliaran di Kota Mamuju, Emak-emak: Biasa BAB dan Makan Bunga Hias

Baca juga: Tiga Formasi CPNS Sulbar Belum Ada Peminat, Pendaftaran Ditutup Besok Senin 26 Juli 2021

Alumni Program Pasca Doktor, Ilmu Khusus Teknologi Informasi dan Komunikasi Tingkat Lanjut, di Pascasarjana Ilmu Informasi dan Teknik Elektro, Universitas Kyushu, Jepang, 2009 ini menjelaskan, pemerintah harus menyiapkan sistem deteksi gempa dan early warning system (sistem peringatan dini) gempa bumi dan tsunami yang disebar di titik-titik rawan.

"Membangun sistem teknologi informasi dan komunikasi yang terhubung dengan BMKG termasuk sistem telekomunikasi satelit apabila terjadi gangguan komunikasi via jaringan fix dan seluler," jelasnya.

Tentunya berkoordinasi dengan lembaga terkait.

Menyiapkan jalur evakuasi. Sistem broadcasting informasi bencana.

Sosialisasi simulasi saat terjadi bencana kepada masyarakat.

Peran masyarakat dan perguruan tinggi juga harus dilibatkan oleh pemerintah dalam memberikan kajian akademik termasuk merumuskan konsep mitigasi bencana.

"Apabila konsep dan semua standar ini dimiliki, maka masyarakat Sulbar Insya Allah tidak perlu lagi panik dan khawatir," pungkasnya. (*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Misbah Sabaruddin 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved