Breaking News:

Pembelajaran Tatap Muka Dibatasi 2 Kali Sepekan, Akademisi Unasman: Tidak Akan Efektif

"Mereka masih harus disupport banyak oleh pendidik," tutur Ketua Prodi Pendidikan PPKn, Fakultas Keguruain dan Ilmu Pendidikan(FKIP) Unasman itu.

Ist/TribunSulbar.com
Ketua Prodi PPKn Unasman Abdul Latif. 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Pembejaran tatap muka di sekolah akan diberlakukan mulai tahun ajaran baru, Juli 2021 mendatang.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan agar pembelajaran tatap muka di sekolah dilaksanakan terbatas dan sangat hat-hati.

Diantaranya, sekolah boleh dilakukan maksimal dua hari dalam sepekan dan waktu belajar juga maksimal dua jam.

Tak hanya itu, pembelajaran tatap muka rencananya dilaksanakan dengan sistem rotasi.

Baca juga: Pemkab Mamuju Terima Bantuan Pengangkut Sampah dari Bank Sulselbar dan Graha Nusa

Baca juga: Daftar Skuad Austria, Finlandia, Hungaria, Skotlandia, Ukraina, Turki hingga Wales di EURO 2020

Sebagaian siswa akan bergantian masuk sekolah dan sisanya melakukan pembelajaran daring secara berganti.

Akademisi Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) Abdul Latif, menilai kebijakan pemerintah pusat terkait pembelajaran tatap muka tersebut sangat tanggung.

"Kalau benar akan seperti itu, hemat saya sangat tanggung dan itu tidak akan efektif, utamanya untuk pendidikan dasar dan menengah, SD sampai SMA," kata Abdul Latif kepada TribunSulbar.com, Selasa (8/6/2021).

Untuk pendidikan tinggi, menurut Latif, mungkin bisa karena model pembelajarannya sudah model andragogi, semua pengetahuan bukan hanya dari dosen.

"Mahasiswa bisa kembangkan pengetahuannya di luar melalui membaca dan kegiatan lainnya,"ujarnya.

Berbeda dengan pendidikan SD dan menengah, lanjutnya, model pembelajarannya pedagogik atau model pembelajaran anak.

Halaman
12
Penulis: Nurhadi
Editor: Hasrul Rusdi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved